Minggu, 08 Oktober 2017

Review Film : Pengabdi Setan

Film ini membawa kita pada era tahun 1980. Adegan awal, atmosfer mencekam sudah diperlihatkan dalam adegan keluarga yang memiliki 4 orang anak. Adalah Rini, Tony, Bondi, dan si bungsu Ian memiliki seorang ibu dengan karir nyanyi yang dulunya cukup melejit.

Namun memasuki tahun 1980, karir ibu mulai meredup dan mengidap penyakit parah. Karena itulah, keluarga ini menjadi memiliki masalah dalam ekonomi, bapak sudah tidak bekerja lagi dan rumah mereka pun harus digadai. Hal inilah yang mengharuskan mereka mengungsi ke rumah nenek.

Selama ibu masih hidup yang kebanyakan terbaring di atas ranjang, suasana mencekam telah disuguhkan ke penonton. Selama ibu sakit, Rini sebagai anak sulung  berusia 22 tahun yang kini sibuk bertugas mengurus rumah tangga dengan memasak. Sementara Tony memiliki tugas yang setiap malam sebelum ibu tidur, ia harus menyisir rambut ibu yang tergerai panjang.

Setiap ibu punya kebutuhan, ia akan membunyikan lonceng yang selalu ia pegang untuk memanggil anak-anaknya. Pada akhirnya, ibu pun meninggal dengan misterius.

Pasca kematian Ibu, Bapak berangkat ke kota untuk mencari penghasilan. Meninggalkan Rini, Tony, Bondi, dan Ian di rumah Nenek. Namun apa yang seharusnya anak-anak menunggu Bapak pulang, berubah menjadi mengerikan. Tanpa ada yang nunggu, Ibu mereka yang tadi baru dikubur mendadak pulang. Menebar ketakutan di tengah Rini dan adik-adiknya. Salah satu dari mereka akan diajak ke alam baka.

Setiap malam, berbagai kengerian meneror di rumah itu. Kecemasan Rini mulai terlihat saat harus bertanya ke Hendra sosok anak pak ustad yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Rini harus tahu siapa, kenapa, dan apa yang sebenarnya terjadi yang berkaitan dengan masa lalu orangtua mereka.

Pengabdi Setan, memberi kita kesempatan untuk melihat seperti apa Ibu di mata masing-masing anaknya.  Melihatkan pula kepada kita bagaimana bangunan sebuah keimanan kepada Tuhan. Orang yang enggan sholat, begitu mudahnya akan disusupi kekuatan hitam, diganggu hingga bisa mencelakai manusia karena berlindung kepada hal yang salah seperti iblis/setan yang jahannam.

It was very interesting, anak-anak ini justru takut kepada Ibu kandung mereka sendiri. Mereka sayang, peduli, dan ingin Ibu sembuh, namun di saat yang sama saat masih hidup mereka tampak enggan untuk berlama-lama di kamar dengan Ibu berdua saja. Sakit Ibu yang misterius membuat sosoknya menjadi semakin menyeramkan. Bahkan Bondi anak ketiga terang-terangan mengungkapkan ketakutannya.

Film ini memiliki banyak "bumbu" pendukung yang membuat bulu kita merinding. Mulai dari lirik lagu hits yang dinyanyikan sang ibu, rumah di area terpencil, sumur tua yang ada di dalam rumah, lukisan wajah ibu, adanya areal kuburan yang tak begitu jauh dari rumah mereka, hingga efek sound musik yang diberikan dalam setiap adegan benar-benar menggelitik saraf takut sampai sempat membuat saya harus menahan pipis di bioskop. Haha...

Bagi pecinta genre horor, film ini wajib untuk dinikmati. Dan bagi saya, ini film horor terbaik yang pantas berada diperingkat pertama sepanjang tahun 2017, dan patut mendapat acungan jempol. Selamat untuk Joko Anwar beserta seluruh crewnya. Saya senang karena nggak kecewa dan nggak rugi datang jauh-jauh dari Bontang hanya untuk menikmati karya anda.

Salam dari kami pecinta film
-Irma safni dan Ahmad Al-Qadri




Kamis, 27 Juli 2017

#Part-10 Keliling Indonesia : Bumi Arema

Lagi, tugas perusahaan membawaku untuk menjajaki lagi salah satu negeri nan elok Indonesia yakni, Bumi Arema Kota Malang Provinsi Jawa Timur.

Saat ini, aku seperti sedang duduk diantara bola-bola kapas raksasa. Flight sriwijaya air sj 252 seat 3 c, disinilah aku asik menulis. Memang aktivitas inilah yang selalu membantu menghilangkan kebosananku sembari menunggu sekitar 1 jam lebih landing di bandara sultan aji Muhammad sulaiman sepinggan Balikpapan.


Sesekali aku juga sambil asik membuka lembaran demi lembaran majalah Sriwijaya yang update edisi Juli 2017. Majalah ini cukup banyak menyajikan traveller story. Pastinya sangat menghibur karena sejalan dengan jiwa petualang aku untuk mengelilingi Indonesia.


Mengunjungi kota yang belum pernah didatangi bagiku adalah hal yang paling menyenangkan. Udara dingin Kota Malang langsung menerpa wajahku begitu tiba pada Selasa, 18 Juli 2017. Ekspektasiku akan keindahan kota ini cukup tinggi. Tiba disana, aku langsung 'disuguhi' pemandangan taman kota yang tertata rapi. Di tengah jalan raya tampak disusun berbagai jenis bunga dengan warna-warna menarik yang dominan kuning, merah, dan pink.


Dari sisi kemacetan menurutku tidak terlalu memakan waktu lama untuk menunggu. Lagipula sebenarnya padetnya pengunjung karena di Malang lagi ada event besar nasional yang dihadiri 98 kota untuk mengikuti Pameran Indonesia City Expo. Dan, kehadiranku disini mewakili PT Pupuk Kaltim (PKT) Bontang sebagai salah satu peserta dalam event pameran tersebut dengan membawa 2 mitra binaan PKT yang bergerak di bidang kerajinan khas kaltim dan prodak daur ulang sampah.


Kegiatan ini meriah banget karena selain pameran, dirangkai pula dengan rapat kerja nasional oleh pejabat wali kota se Indonesia (Apeksi) yang turut dihadiri Bapak Presiden RI Joko Widodo, pawai budaya yang diikuiti 3600 peserta, dan selama pameran panggung arenanya diisi berbagai penampilan kesenian daerah dari asal daerah masing-masing peserta. Adapun wali kota Bontang Ibu Hj. Neni turut pula hadir disini mengikuti pawai budaya.


Dari pameran ini, alhamdulilah stand PKT banyak diminati pengunjung. Total pendapatan 2 mitra binaan selama 5 hari mencapai sekitar Rp. 15 juta. Selama disana, dengan keterbatasan waktu lumayan ada 3 lokasi yang sempat bisa diexplore diantaranya kampung warna-warni, kebun apel, dan museum angkut. Tempat ini lumayan mudah dijangkau dengan jalanannya yang mulus. Sedikit review dari 3 lokasi wisata tersebut antara lain :

Kampung warna-warni :
Sebuah pemukiman warga yang didesign cukup menarik dengn nuansa cat yang beragam warna. Dinding rumah pun digambar sedemikian rupa sehingga memiliki daya tarik tersendiri untuk melakukan selfie dan wefie. Fasilitas toiletnya bersih dan ada musholla yang cukup nyaman. Jika kita menapaki tangga demi tangga, maka akan tampak diatas rangkaian bunga-bunga plastik yang menawan.

Sebelum masuk perkampungan yang hanya berjarak sekitar 10 menit dari hotel disekitar kota malang ini, kita akan diberi tiket masuk. Nggak usah khawatir mahal, kita cukup mengeluarkan Rp 2 ribu. Tertera dalam tiket itu bahwa biaya yang kita bayar akan diperuntukkan untuk perawatan cat, design gambar dan kebersihan.

Kebun apel dan museum angkut :
Kedua tempat ini cukup berdekatan, jadi langsung bisa sepaket dikunjungi. Jarak tempuh dari Kota Malang sekitar setengah jam. Di kebun apel, tentu kita akan melihat hamparan buah apel yang bertebaran di ranting-ranting pohon yang kerdil. Dari ketiga tempat yang aku kunjungi, kebun apel lah yang membuatku paling berkesan.


Sebab dari jaman bocah sudah kepengen banget ke tempat ini merasakan sensasi memetik apel langsung dari pohonnya dan ditemani oleh pemandu agrowisata. Pemandu akan menjelaskan tentang budidaya tanaman dan hal-hal yang berkaitan tentang buah-buah tersebut. Jangan lupa siapkan duit untuk membayar tiket masuk Rp 30 ribu/org dan kita sudah bisa makan sepuasnya. Dibungkus bisa saja, tapi kita akan membayar sesuai timbangan per kg Rp. 30 ribu.

Museum angkut :
Museum Angkut merupakan museum transportasi yang jaraknya sekitar 20 km dari Kota Malang. Ditempat ini bersebelahan dengan miniatur pasar terapung yang ada di Kota Banjarmasin Kalsel. Tiket masuk mobil Rp 7000, tapi untuk mencoba beberapa wahana akan ditarik biaya lagi seperti naik kapal mengelilingi perairan kecil Rp. 10.000. Untuk masuk ke museum itu sendiri per orang tiketnya Rp. 100.000. Sayangnya aku belum sempat  masuk ke dalam ruangan ini karena terbatasnya waktu. Namun, dari pintu masuk sekilas aku masih bisa melihat isi ruangan di lantai 1 yang penuh dengan jenis angkutan tradisional hingga modern.

Dari info yang aku telusuri, museum ini terbagi dalam beberapa zona yang didekorasi dengan setting lanscape model bangunan dari benua Asia, Eropa hingga Amerika. Di Zona Sunda Kelapa dan Batavia yang merupakan Replika Pelabuhan Sunda Kelapa, dihiasi oleh beberapa alat transportasi kuno seperti becak dan miniatur kapal. Zona Eropa juga di setting seakan-akan berada di jalanan kota-kota Perancis dengan mobil-mobil kuno eropa.

Selain mobil-mobil kuno, salah satu koleksi terbarunya adalah Mobil listrik Tucuxi milik mantan menteri Dahlan Iskan yang sebelumnya pernah mengalami kecelakaan di sebuah lereng gunung di Magetan saat baru diujicobakan.

Kuliner :
Kalau ke Malang katanya wajib banget nyobain bakso yang fenomenal disana namanya bakso president yang sudah ada sejak tahun 90 an. Uniknya lokasi bakso ini berada di pinggir rel kereta api, ada sensasi tersendiri tentunya saat makan kereta api lewat disepanjang rel. Dinamain president dari info yang aku dapat, katanya karena pemiliknya mirip sama alm. President Bpk. Suharto. Rasanya memang oke banget. Nah, selain bakso makanan lainnya seperti seafood juga enak.

Jujur masih merasa kurang puas mengexplore Malang, jadi sepertinya memang harus ada waktu tersendiri kesana diluar dari kerjaan.
Cukup sampai disini dulu ya kawan. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

-Safni
*Di atas pesawat flight sj 252 seat  3 c tgl 24 Juli 2017









Minggu, 16 Juli 2017

Cuap-cuap di tengah Kemacetan

Assalamualaikum...
lama ga bersua ne, apa kabar kalian para bloggers?
Sore ini cuaca syahdu banget, hujan turun dengan derasnya di Kota Samarinda dan saya lagi terjebak di tengah kemacetan menuju Kota Bontang. Semakin syahdu rasanya hati ini sambil diiringi lagu-lagu dari Ungu, Siti Nurhaliza, Raisa, Afgan, dan lain-lain.
Ibukota provinsi Kaltim ini terkenal banget ya dengan banjirnya. Mirip-mirip kasusnya sama Jakarta tapi ini versi mininya. Sudah 2 jam saya disini menunggu mobil bisa luwes jalan terus.

Ini saya dan suami lagi bingung gimana caranya buat ntar sholat maghrib ditengah kemacetan ini. Hikss...
Sambil ngeblog ini, saya asik menikmati beberapa jajanan yang sudah dibeli tadi di Giant. Ada roti2 breadtalk, snack kentang, malkist, dan kacang. Lumayan banget ini bisa ngisi kekosongan perut, tapi minum airnya diminimalisir banget takut mau pipis euy. Hehe...

Sementara si aa' buat ngilangin rasa kesalnya, doi asik sambil ngegames di hpnya sampe ga nyadar ada 1 mobil nyelip kedepan. Uffghh...

Oh iya, saya juga lagi bareng keluarga ne. Mereka posisinya dari tadi sudah pada asik tidur.

Di tengah kemacetan ini, saya juga sambil asik ber sosmed ria. Ternyata, beberapa teman sudah ada yang update status tentang banjir. Yasudahlah mau gimana lagi, dalam keadaan seperti ini cuma bisa pasrah sembari beristigfar agar diberi segera  kelancaran.
Sekitar 10 menit kemudian ntah mengapa mobil makin lincah maju kedepan. Alhamdulilah sepertinya Allah SWT mendengar doa kami. Apalagi niatnya memang mau ngejar tetap bisa sholat maghrib. Alhasil tadi kita bisa sholat di jam 18:55 WITA syukurnya pas langsung ada juga Masjid di depan.

Buat yang sudah biasa ngalamin kemacetan, menunggu di mobil hampir 2 jam lebih nggak jalan2 mungkin udah jadi hal yang biasa kali ya. Beda banget tentunya dengan yang hidup di kota kecil, seperti saya yang tinggal di Kota Bontang nyaris jarang banget yang namanya macet. Jadi wajarlah kalau macet gini, hati gimanaaa gitu rasanya mesti nahan kesabaran extra. Hihi....

Kalau sudah gini ceritanya, lagi-lagi makin bersyukur walaupun hidup di kota kecil tapi setidaknya di Bontang nggak ngerasain macet, jarang banjir, dan kotanya asri banget. Eh btw, ada wacana salah satu kota di Kaltim katanya Balikpapan bakal jadi calon tempat pusat pemerintahan baru. Jika itu benar terealisasi, siap-siap aja imbasnya bisa aja juga sampe ke Samarinda dan Bontang. Sebagai warga negara biasa, saya mah welcome saja mungkin inilah jalan terbaik bagi bangsa ini. Ceilaa.....

Demikian dulu yah, cuap-cuap ria yang berlanjut ditengah kemacetan ini. Mulai ngantuk ne, istirahat dulu di jalan mana besok udah mulai ngantor lagi. Huaaa....



Salam blogger,
Samarinda, 16 Juli 2017








Rabu, 30 November 2016

#Part-9 Keliling Indonesia : Karawang

Di Part 9, cerita berlanjut lagi di tanggal 23 November 2016.

Citilink flight QG 861 seat 7 C, disinilah aku mulai merangkai kata. Disampingku seat 7A dan 7 B adalah sepasang suami istri yang kutaksir berusia hampir 50 tahunan. Ibu ini berjilbab dan suaminya mengenakan kacamata.  Mereka berdua asik sekali berbincang sambil menikmati makanan yang dibawanya di dalam saku tas. Ntah apa nama makanannya, dari bau yang kuhirup seperti pentol. Hihi...

Ah, aku jadi teringat pakle pentol bakar yang sering menjajakan jualannya di acara pasar malam. Setelah itu mereka juga asik menyantap snack kentang. Tak disangka, ibu disampingku tersebut ternyata menawarkan makanannya, tapi aku menolaknya dengan senyuman dan mengucapkan terima kasih. Padahal dalam hati bergumam "aduh, lapar juga yah jadinya". Haha...

Karena bepergian sendiri nggak bareng suami, jadi kebawa perasaan (red : baper) juga yah melihat keasikan mereka. Hehe... Akhirnya kuputuskan untuk mencoba mengalihkan pandanganku ke balik jendela.

Melihat awan-awan nan syahdu di balik jendela, aku merasa seolah sedang berada di negeri awan. Sambil bersenandung pelan dalam hati, kulantunkan lagu milik Katon Bagaskara "kau nyanyikan untukku, sebuah lagu tentang negeri di awan dimana kedamaian menjadi istananya yang kini telah kau bawa aku menuju kesana...". Aku pun mulai mengantuk, dan menghentikan ketikan tangan di hp tab. #tertidur

To be continued....
#Bus Damri

Halo, kembali lagi di tulisan part 9 ini. Ufggh, terbangun dan akhirnya aku sudah landing di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Berjumpa lagi dengan hiruk pikuk ibukota.


Lalu, dalam rangka apakah aku kesini lagi? baiklah pada titik ini akan aku bahas. Oh iya, posisi aku sedang menulis ini lagi di Bus Damri tujuan Purwakarta menuju PT Pupuk Kujang Cikampek.

Dari rumah aku diantar suami ke bandara PT Badak sekira pukul 11:30 WITA. Kita sempatin dulu mampir makan siang di daerah Hop 6. Selesai pukul 12:00, kami melanjutkan perjalanan dan sampai dibandara sekira pukul 12:15. Suami nyetirnya pelan banget karena memang di kompleks ini kecepatannya diatur maksimal 40 km.

Sampai di bandara, aku langsung cek in dan duduk bentar ngobrol dengan suami sebelum masuk ke dalam ruang tunggu. Setiap kali menghadapi moment perpisahan di bandara, berasa jadi seperti Rangga dan Cinta. Efek nonton film ya begini jadinya. Hehe...

Naik pesawat dari Bontang-Balikpapan pukul 12:35 ditempuh hanya sekitar setengah jam. Sampe Bandara Sepinggan Balikpapan sekitar pukul 13:00, aku langsung cek in dan menuju Gate 3 flight Citilink pukul 14:20 WITA menuju Jakarta.

Sekitar pukul 15:30 WIB aku tiba di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Keluar bandara langsung nyari bus Damri antara tujuan Karawang yang nantinya turun di terminal klari atau nggak Purwakarta yang turunnya di rest area Km 57. Sekitar 20 menit aku menantikan Damri, akhirnya dapat yang tujuan Purwakarta. Ini baru pertama kalinya aku naik bus dari bandara untuk menuju kota tujuan berikutnya. Biasanya mentok paling disekitaran Jakarta saja itupun selalu naik Taksi.

Perjalanan kali ini, lagi-lagi dalam rangka tugas perusahaan untuk menghadiri acara survei kepuasan lingkungan yang diselenggarakan secara bergilir oleh anak perusahaan Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC). Pada kesempatan ini, aku ditugaskan di PT Pupuk Kujang Cikampek.

Di bus aku duduk sendiri, sementara di kursi lain telah terisi full. Lumayan tas ranselku yang cukup besar ini bisa ditaro disamping kursi yang kosong. Sepanjang perjalanan aku asik banget melihat pemandangan di balik jendela. Keriuhan dan kepadatan ibukota ini membuatku berpikir. Mungkin aku tak akan betah tinggal di kota ini. Karena waktuku mungkin hanya akan banyak terbuang dijalan dengan segala kemacetannya.

To be continued...

Sekitar pukul 7 malam ntah lewat berapa aku turun di rest area km 57, karena panitia akan menjemputku disini. Agak deg-degkan juga sih selama perjalanan. Pasalnya baru pertama kali melewati jalur ini, terus sendirian, dan takut kelewatan. Aku sampai dua kali nanya ke drivernya hanya untuk nanya ini sudah didaerah mana, dan minta tolong agar diinfokan kalau sudah sampai. Kondisi bus yang full AC ditambah hujan deras dibalik jendela pun membuat perut terasa lapar dan dinginnya tak terbendung. Nyesal banget jadinya lupa bawa jaket.

Sesampai rest area km 57, senang banget liat ada mini market. Langsung saja kucari sesuap makanan yang bisa mengganjal perut laparku ini. Pilihanku pun jatuh pada sari roti rasa cream coklat. Aduhai, sari roti ini rasanya paling enak yang pernah kutemui. Pengaruh sangking laparnya kali ya. Hehe...

15 menit kemudian, 2 panitia pun menjemputku namanya Pak Agus dan Pak Ghazali menggunakan Toyota Avanza. Aku langsung diantar ke tempat makan dimana tamu yang lain juga sudah berkumpul. Setengah jam aku pun sampai ditempat makan, disambut keriuhan para tamu yang asik bersenandung lagu-lagu lawas era 80 an. Sementara yang lain sudah selesai menyantap makanannya.

#Wisma Tamu

Alhamdulilah, perut telah diberi asupan. Saatnya kami diantar ke wisma tamu dengan jarak tempuh setengah jam menggunakan Bus Pupuk Kujang. Di bus itu, aku duduk bareng dengan karyawati Pupuk Kujang namanya Mba Nila. Kulitnya putih, berparas cantik seperti ada keturunan arab. Dari penampilannya yang cukup trendi dengan menggunakan celana jeans dipadu jaket jeans dan jilbab pink, awalnya aku taksir usianya dibawah umurku. Setelah kuselidiki ternyata usianya lebih tua daripada aku.

Kami asik mengobrol saling sharing kegiatan perusahaan, tentang bagaimana perbedaan kondisi antara Karawang dan Bontang, hingga sedikit pembahasan tentang kehidupan pribadi kami. Ia juga telah memiliki suami dan baru saja dianugerahkan 1 orang anak.


Begitu asiknya ngobrol di bus, tak terasa aku sudah sampai di wisma tamu Pupuk Kujang. Suasananya tak jauh berbeda dengan wisma tamu di Pupuk Kaltim. Lokasinya berada di kompleks dan tentu saja sangat sepi. Jujur saja aku sedikit takut berada di wisma ini. Berada di tempat baru yang sepi, apalagi sebelumnya sempat dapat info dari teman bahwa tempat ini katanya "ada sesuatu" sungguh membuatku grogi.

Semakin grogi, soalnya masih sendirian karena tamu dari Pupuk Sriwijaya yang info dari panitia aku akan sekamar dengan Ibu Ning belum datang. Sebab, beliau mengambil penerbangan dari palembang jam 5 sore jadi akan telat tiba.

Sekitar 15 menit kemudian, aku lega banget Bu Ning akhirnya tiba. Sekejap tenanglah sudah hati ini. Kami cukup banyak saling bercerita sebelum tidur. Beliau usianya sudah 53 tahun, sebentar lagi memasuki masa pensiun dan memiliki dua anak yang sudah pada beranjak dewasa.


#Kegiatan Survei Kepuasan Lingkungan (SKL)

Kamis, 24 Nopember 2016 pukul 09:00 acara SKL pun dimulai. Sebanyak 185 tamu undangan yang hadir dari berbagai element masyarakat. Acara dibuka dengan pemutaran video safety indoction, dilanjutkan acara sambutan-sambutan, dan pengisian kuisioner.


Sebelum pengisian kuisioner, audience dihibur kesenian khas sunda "calung" oleh anak2 SD yg  main musik angklung sambil bernyanyi dan melakoni pertunjukan drama kecil yg kocak dan sangat menghibur. Pengisian kuisioner dilakukan secara terbuka (anggota PIHC melihat langsung kegiatan pengisian tersebut) dan pengisiannya dipandu oleh tim mahasiswa Uniska Karawang.

Dalam substansi kuisionernya, kujang memberikan beberapa point pertanyaan yaitu jenis kegiatan csr yg dikehendaki masyarakat (ada 7 item pilihan program yg dinilai dari tingkat kepentingannya). Akhirnya, pukul 10:46 acara SKL pun selesai.

#Suasana Karawang dan Sajian Kulinernya

Selesai SKL, aku dan rombongan PIHC lalu makan siang bersama diluar. Sebagai pecinta kuliner, moment inilah yang paling kunantikan saat berada di kota orang. Hihi...
Makan siangnya disebuah tempat bernama sate maranggi cibungur. Kalau di Bontang semacam pujasera koperasi pkt. Uniknya, kalau di pujasera koperasi pkt Bontang dikelola dari berbagai pedagang, tapi disini dikelola oleh satu pedagang saja.




Ini pertama kalinya aku makan sate maranggi dan jatuh hati banget sama makanan ini. Pedas sambalnya segar banget, dagingnya pun aduhai empuknya. Ada lagi makanan tutu yang pertama kalinya juga aku baru makan. Ini juga nggak kalah enak. Soto dagingnya, gorengannya rasanya juara banget. Begitu pengennya menikmati semua sajian di meja, sengaja banget makan nasinya dikit aja. Hehe...


Setelah makan siang, rombongan mampir sholat zuhur. Lalu kami langsung diajak mengunjungi 2 mitra binaan kujang yaitu bale batik taza khas karawang, dan mitra binaan pembuat mie klinik marety (berupa mie ayam hijau yang dapat berkhasiat menyembuhkan maag, hipertensi, types, kolestrol, dan diabetes).


Di bale batik taza, pembuatan batik dibuat dari pewarna alam. Motif khasnya adalah gambar padi karena memang Karawang identik persawahan, walaupun saat ini jumlah sawah mulai berkurang karena banyaknya pembangunan. Dari penuturan pemilik, usahanya banyak menerima pesanan dari luar kota. Tak tanggung-tanggung pernah mensponsori kostum artis Rina Nose.


Nah, kalau di mie klinik asiknya rombongan mendapat sajian makanan lagi euy. Hehe... Mie klinik ini rasanya sama seperti mie ayam pada umumnya, yang membedakan hanya bahan mienya saja yang terbuat dari herbal daun marety. Pemiliknya berdarah cina, tampak sangat ramah menyambut kami.

Untuk suasananya, Karawang terbilang cukup bersih dan penduduknya belum begitu padat. Alur kendaraan pun belum terlalu macet. Menurut info, kabupaten ini memiliki upah minimum yang terbilang lumayanlah sudah di atas 3 juta. Di tempat ini juga berdiri bangunan bersejarah namanya bendungan walahar. Spot buat selfie viewnya asik banget. Arus air yang mengalir, burung-burung yang beterbangan disekitar bendungan semakin mempercantik suasana.



Konon, bangunan ini katanya dibangun pada masa penjajahan Portugis yang kemudian dilanjutkan masa penjajahan Belanda. Pastinya, saat masa pembangunannya banyak melibatkan tenaga pribumi. Berdirinya bendungan ini difungsikan sebagai pembagi air sungai citarum untuk mengatur debit dan sirkulasi air dalam mengaliri areal persawahan. Tak heran jika tempat ini sesungguhnya menjadi saksi dari bergesernya sebuah peradaban sungai khususnya di Karawang.

Singkat cerita, selesai kunjungan kilat ini kami kembali ke wisma tamu untuk istirahat sejenak. Malamnya, kami dijamu lagi makan malam di pinggiran dengan menu seafood. Rasanya sama saja dengan seafood di Bontang. Yang berkesan adalah menu kerang saus padangnya juara. Sekitar pukul setengah 10 malam kembali ke wisma. Sampai disana, ada sedikit rasa takut karena Ibu Ning sudah kembali deluan, terpaksa aku jadi sendiri di tempat ini. Untungnya beberapa jam lagi aku akan cekout karena penerbanganku jam 5 pagi, sehingga jam 1 pagi mesti sudah mulai perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta Jakarta.



Alhamdulilah yah, bisa mengunjungi lagi tempat baru di negeriku Indonesia. Terima kasih Pupuk Kujang Cikampek, terima kasih Karawang.

Salam blogger.

Rabu, 28 September 2016

#Part-8 Keliling Indonesia : Jambi

   26 Juli s.d 01Agustus 2016 lalu alhamdulilah bisa mengunjungi lagi salah satu kota di Indonesia yaitu, Tanah Pilih Pusako Batuah Kota Jambi. Bahagia banget pastinya karena Kota ini baru pertama kali dipijak. Kesini dalam rangka tugas perusahaan mengikuti Pameran Indonesia City Expo.

             Sekilas tentang pameran ini :

Pameran Indonesia City Expo merupakan kegiatan tahunan. Tahun 2016 ini adalah penyelenggaraan ke-14 kalinya yang diperuntukkan bagi instansi pemerintah melalui Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), perusahaan BUMN/BUMD, UMKM, Institusi Pendidikan, serta sektor informal.
Dalam pameran yang berlangsung di Jambi tanggal 26 Juli s.d 01 Agustus 2016 oleh PT. Antheus Indonesia Organizer, dilakukan pula serangkaian kegiatan pendukung meliputi musyawarah nasional APEKSI, pawai budaya, penanaman pohon khas daerah, dan pertunjukan seni budaya nusantara.
Indonesia City Expo 2016 menawarkan kesempatan berpromosi yang sangat baik untuk dapat mengoptimalkan branding dan image dari produk perusahaan dikalangan pejabat dan pengusaha. Oleh karena itu, disinilah salah satu upaya dari PT Pupuk Kaltim (re : nama perusahaan tempat penulis bekerja) untuk dapat selalu melibatkan mitra binaannya dalam ajang pameran dengan didasarkan keyakinan bahwa pameran ini bernilai positif bagi hubungan perusahaan dengan pemerintah dan masyarakat.
  
Tujuan :


1.       Mempublikasikan perkembangan usaha di setiap Kota.
2.     Mendorong mitra binaan untuk melakukan strategis pemasaran dan memperluas promo produk unggulan.
3.       Ajang tukar informasi perkembangan produk kepada pemerintah, pengusaha, dan masyarakat.



e                 Pengunjung Stand
1.       Pejabat pemerintah dan swasta
2.       Investor dan buyer
3.       Pengusaha
4.       Pelajar/Mahasiswa
5.       Masyarakat lokal dan luar daerah

                  Produk yang ditampilkan Mitra Binaan PT Pupuk Kaltim

1.       Kerajinan khas Kaltim : Tas manik-manik, batu permata, kalung, gelang, kain Kaltim, dan lain-lain
2.       Olahan rumput laut Khas Kampung Malahing : Amplang, stick, snack kertas, kembang goyang, ceker rumput laut.
 Bagi saya pameran kali ini cukup berkesan karena dibumbui beberapa kegiatan yang menarik diantaranya :

- Sebelum acara pembukaan, dilakukan terlebih dahulu rangkaian pawai budaya yang pesertanya langsung dari perwakilan Kota-Kota di Indonesia. Untuk wilayah Provinsi Kalimantan Timur cukup banyak Kota yang terlibat. Ada Bontang, Samarinda, Balikpapan, dan Tarakan. Kota lain yang ikut mewarnai pawai budaya ini ada Bandung, Aceh, Banten, Banjarmasin, Palembang, Medan, tentunya ada tuan rumah (Jambi), dan masih banyak lagi yang lainnya. 

- Selain itu, di panggung utama setiap harinya selama pameran berlangsung ditampilkan pentas seni khas daerah masing-masing.

- Uniknya kegiatan ini sampe dihadiri masing-masing Kepala Daerah. Termasuk Walikota Bontang Ibu Neny juga turut hadir, tapi sayangnya malah nggak ketemu beliau. Justru saya ketemu dan sempat foto bareng dengan Walikota Bandung Kang Emil (Bpk. Ridwan Kamil), Ibu Airin (Walikota Tangerang Selatan), dan Gubernur Jambi yang kece Bapak Zumi Zola. Sebagai rakyat biasa, sekilas saya menilai para pemimpin yang sempat bertemu dengan saya ini adalah sosok yang ramah dan mengayomi. Nggak salah, kalau beberapa media memberikan pemberitaan yang positif tentang para pemimpin ini. Semoga saja, bukan pencitraan semata yah. Hehe... 

- Sepertinya Jambi memang bukan kota yang terkenal untuk berwisata. Bahkan mungkin diantara kita ternyata nggak tahu kalau Jambi itu ada di pulau Sumatra. Pada saat disana, memang untuk tempat wisata Jambi belum memiliki tempat yang fenomenal katakanlah seperti Candi Borobudur, keindahan pantai yang bak surga seperti di Bali. Tapi, setidaknya dalam sajian tempat wisata, Jambi mulai berupaya berbenah diri melalui hal yang simpel seperti penataan taman. 

Disana sekumpulan taman sekecil apapun, pasti diberi identitas. Tapi, sayang sekali saya nggak sempat mendokumentasikannya. Karena itulah, saya dan rombongan hanya bisa menyempatkan waktu ke Candi yang bernama Muaro Jambi. Candinya memang nggak sebesar Prambanan, namun viewnya cukup asik kok buat ajang selfie dan wefie (re : foto-foto). Tempat lain yang berhasil kami singgahi ditengah-tengah kepadatan jadwal pameran adalah Masjid Agung Al-Falah yang terkenal dengan sebutan "Masjid 1000 tiang", nongkrong sambil makan malam di tepian sungai Batanghari, serta rumah adat. Selebihnya kami hanya melewati saja tanpa turun langsung ke lokasi seperti Taman Rimba, Taman Mini, pasar keramik Sitimang, dan Jambi juga punya Monas loh.
Candi Muaro Jambi
Candi Muaro Jambi

Taman Mini Jambi
Taman mini


Monas Jambi
Monas Jambi


- Meskipun tempat wisata disana nggak banyak. Jambi memiliki keseruan dari sisi kulinernya. yang rasanya oke banget. Tentunya cocok banget dengan lidah saya yang sangat mencintai masakan ala-ala Sumatra. Jenis kuliner disana, sebenarnya masakan yang sama pada umumnya sering dijumpai seperti pindang ikan, cumi, udang, racikan daging ayam, sapi, dan lainnya. Hanya saja Jambi punya khas akan santan kental, dan memiliki kekuatan dalam mengolah bumbu rempah-rempah menjadi sajian lezat.







- Selama di Jambi, tanpa sadar saya ikut terbawa juga dalam logat melayu saat berbicara dengan orang disana. Terutama pas lagi belanja, biar dikira orang Jambi gitu jadi nggak dikasih mahal-mahal. Hehe...

Sekian dulu yah catatan perjalanan keliling Indonesia di part 8 ini, karena lagi asik juga ne nonton moto gp di sebuah cafe pinggir pantai bersama suami. Hihiii....

Salam,