Rabu, 30 November 2016

#Part-9 Keliling Indonesia : Karawang

Di Part 9, cerita berlanjut lagi di tanggal 23 November 2016.

Citilink flight QG 861 seat 7 C, disinilah aku mulai merangkai kata. Disampingku seat 7A dan 7 B adalah sepasang suami istri yang kutaksir berusia hampir 50 tahunan. Ibu ini berjilbab dan suaminya mengenakan kacamata.  Mereka berdua asik sekali berbincang sambil menikmati makanan yang dibawanya di dalam saku tas. Ntah apa nama makanannya, dari bau yang kuhirup seperti pentol. Hihi...

Ah, aku jadi teringat pakle pentol bakar yang sering menjajakan jualannya di acara pasar malam. Setelah itu mereka juga asik menyantap snack kentang. Tak disangka, ibu disampingku tersebut ternyata menawarkan makanannya, tapi aku menolaknya dengan senyuman dan mengucapkan terima kasih. Padahal dalam hati bergumam "aduh, lapar juga yah jadinya". Haha...

Karena bepergian sendiri nggak bareng suami, jadi kebawa perasaan (red : baper) juga yah melihat keasikan mereka. Hehe... Akhirnya kuputuskan untuk mencoba mengalihkan pandanganku ke balik jendela.

Melihat awan-awan nan syahdu di balik jendela, aku merasa seolah sedang berada di negeri awan. Sambil bersenandung pelan dalam hati, kulantunkan lagu milik Katon Bagaskara "kau nyanyikan untukku, sebuah lagu tentang negeri di awan dimana kedamaian menjadi istananya yang kini telah kau bawa aku menuju kesana...". Aku pun mulai mengantuk, dan menghentikan ketikan tangan di hp tab. #tertidur

To be continued....
#Bus Damri

Halo, kembali lagi di tulisan part 9 ini. Ufggh, terbangun dan akhirnya aku sudah landing di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Berjumpa lagi dengan hiruk pikuk ibukota.


Lalu, dalam rangka apakah aku kesini lagi? baiklah pada titik ini akan aku bahas. Oh iya, posisi aku sedang menulis ini lagi di Bus Damri tujuan Purwakarta menuju PT Pupuk Kujang Cikampek.

Dari rumah aku diantar suami ke bandara PT Badak sekira pukul 11:30 WITA. Kita sempatin dulu mampir makan siang di daerah Hop 6. Selesai pukul 12:00, kami melanjutkan perjalanan dan sampai dibandara sekira pukul 12:15. Suami nyetirnya pelan banget karena memang di kompleks ini kecepatannya diatur maksimal 40 km.

Sampai di bandara, aku langsung cek in dan duduk bentar ngobrol dengan suami sebelum masuk ke dalam ruang tunggu. Setiap kali menghadapi moment perpisahan di bandara, berasa jadi seperti Rangga dan Cinta. Efek nonton film ya begini jadinya. Hehe...

Naik pesawat dari Bontang-Balikpapan pukul 12:35 ditempuh hanya sekitar setengah jam. Sampe Bandara Sepinggan Balikpapan sekitar pukul 13:00, aku langsung cek in dan menuju Gate 3 flight Citilink pukul 14:20 WITA menuju Jakarta.

Sekitar pukul 15:30 WIB aku tiba di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Keluar bandara langsung nyari bus Damri antara tujuan Karawang yang nantinya turun di terminal klari atau nggak Purwakarta yang turunnya di rest area Km 57. Sekitar 20 menit aku menantikan Damri, akhirnya dapat yang tujuan Purwakarta. Ini baru pertama kalinya aku naik bus dari bandara untuk menuju kota tujuan berikutnya. Biasanya mentok paling disekitaran Jakarta saja itupun selalu naik Taksi.

Perjalanan kali ini, lagi-lagi dalam rangka tugas perusahaan untuk menghadiri acara survei kepuasan lingkungan yang diselenggarakan secara bergilir oleh anak perusahaan Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC). Pada kesempatan ini, aku ditugaskan di PT Pupuk Kujang Cikampek.

Di bus aku duduk sendiri, sementara di kursi lain telah terisi full. Lumayan tas ranselku yang cukup besar ini bisa ditaro disamping kursi yang kosong. Sepanjang perjalanan aku asik banget melihat pemandangan di balik jendela. Keriuhan dan kepadatan ibukota ini membuatku berpikir. Mungkin aku tak akan betah tinggal di kota ini. Karena waktuku mungkin hanya akan banyak terbuang dijalan dengan segala kemacetannya.

To be continued...

Sekitar pukul 7 malam ntah lewat berapa aku turun di rest area km 57, karena panitia akan menjemputku disini. Agak deg-degkan juga sih selama perjalanan. Pasalnya baru pertama kali melewati jalur ini, terus sendirian, dan takut kelewatan. Aku sampai dua kali nanya ke drivernya hanya untuk nanya ini sudah didaerah mana, dan minta tolong agar diinfokan kalau sudah sampai. Kondisi bus yang full AC ditambah hujan deras dibalik jendela pun membuat perut terasa lapar dan dinginnya tak terbendung. Nyesal banget jadinya lupa bawa jaket.

Sesampai rest area km 57, senang banget liat ada mini market. Langsung saja kucari sesuap makanan yang bisa mengganjal perut laparku ini. Pilihanku pun jatuh pada sari roti rasa cream coklat. Aduhai, sari roti ini rasanya paling enak yang pernah kutemui. Pengaruh sangking laparnya kali ya. Hehe...

15 menit kemudian, 2 panitia pun menjemputku namanya Pak Agus dan Pak Ghazali menggunakan Toyota Avanza. Aku langsung diantar ke tempat makan dimana tamu yang lain juga sudah berkumpul. Setengah jam aku pun sampai ditempat makan, disambut keriuhan para tamu yang asik bersenandung lagu-lagu lawas era 80 an. Sementara yang lain sudah selesai menyantap makanannya.

#Wisma Tamu

Alhamdulilah, perut telah diberi asupan. Saatnya kami diantar ke wisma tamu dengan jarak tempuh setengah jam menggunakan Bus Pupuk Kujang. Di bus itu, aku duduk bareng dengan karyawati Pupuk Kujang namanya Mba Nila. Kulitnya putih, berparas cantik seperti ada keturunan arab. Dari penampilannya yang cukup trendi dengan menggunakan celana jeans dipadu jaket jeans dan jilbab pink, awalnya aku taksir usianya dibawah umurku. Setelah kuselidiki ternyata usianya lebih tua daripada aku.

Kami asik mengobrol saling sharing kegiatan perusahaan, tentang bagaimana perbedaan kondisi antara Karawang dan Bontang, hingga sedikit pembahasan tentang kehidupan pribadi kami. Ia juga telah memiliki suami dan baru saja dianugerahkan 1 orang anak.


Begitu asiknya ngobrol di bus, tak terasa aku sudah sampai di wisma tamu Pupuk Kujang. Suasananya tak jauh berbeda dengan wisma tamu di Pupuk Kaltim. Lokasinya berada di kompleks dan tentu saja sangat sepi. Jujur saja aku sedikit takut berada di wisma ini. Berada di tempat baru yang sepi, apalagi sebelumnya sempat dapat info dari teman bahwa tempat ini katanya "ada sesuatu" sungguh membuatku grogi.

Semakin grogi, soalnya masih sendirian karena tamu dari Pupuk Sriwijaya yang info dari panitia aku akan sekamar dengan Ibu Ning belum datang. Sebab, beliau mengambil penerbangan dari palembang jam 5 sore jadi akan telat tiba.

Sekitar 15 menit kemudian, aku lega banget Bu Ning akhirnya tiba. Sekejap tenanglah sudah hati ini. Kami cukup banyak saling bercerita sebelum tidur. Beliau usianya sudah 53 tahun, sebentar lagi memasuki masa pensiun dan memiliki dua anak yang sudah pada beranjak dewasa.


#Kegiatan Survei Kepuasan Lingkungan (SKL)

Kamis, 24 Nopember 2016 pukul 09:00 acara SKL pun dimulai. Sebanyak 185 tamu undangan yang hadir dari berbagai element masyarakat. Acara dibuka dengan pemutaran video safety indoction, dilanjutkan acara sambutan-sambutan, dan pengisian kuisioner.


Sebelum pengisian kuisioner, audience dihibur kesenian khas sunda "calung" oleh anak2 SD yg  main musik angklung sambil bernyanyi dan melakoni pertunjukan drama kecil yg kocak dan sangat menghibur. Pengisian kuisioner dilakukan secara terbuka (anggota PIHC melihat langsung kegiatan pengisian tersebut) dan pengisiannya dipandu oleh tim mahasiswa Uniska Karawang.

Dalam substansi kuisionernya, kujang memberikan beberapa point pertanyaan yaitu jenis kegiatan csr yg dikehendaki masyarakat (ada 7 item pilihan program yg dinilai dari tingkat kepentingannya). Akhirnya, pukul 10:46 acara SKL pun selesai.

#Suasana Karawang dan Sajian Kulinernya

Selesai SKL, aku dan rombongan PIHC lalu makan siang bersama diluar. Sebagai pecinta kuliner, moment inilah yang paling kunantikan saat berada di kota orang. Hihi...
Makan siangnya disebuah tempat bernama sate maranggi cibungur. Kalau di Bontang semacam pujasera koperasi pkt. Uniknya, kalau di pujasera koperasi pkt Bontang dikelola dari berbagai pedagang, tapi disini dikelola oleh satu pedagang saja.




Ini pertama kalinya aku makan sate maranggi dan jatuh hati banget sama makanan ini. Pedas sambalnya segar banget, dagingnya pun aduhai empuknya. Ada lagi makanan tutu yang pertama kalinya juga aku baru makan. Ini juga nggak kalah enak. Soto dagingnya, gorengannya rasanya juara banget. Begitu pengennya menikmati semua sajian di meja, sengaja banget makan nasinya dikit aja. Hehe...


Setelah makan siang, rombongan mampir sholat zuhur. Lalu kami langsung diajak mengunjungi 2 mitra binaan kujang yaitu bale batik taza khas karawang, dan mitra binaan pembuat mie klinik marety (berupa mie ayam hijau yang dapat berkhasiat menyembuhkan maag, hipertensi, types, kolestrol, dan diabetes).


Di bale batik taza, pembuatan batik dibuat dari pewarna alam. Motif khasnya adalah gambar padi karena memang Karawang identik persawahan, walaupun saat ini jumlah sawah mulai berkurang karena banyaknya pembangunan. Dari penuturan pemilik, usahanya banyak menerima pesanan dari luar kota. Tak tanggung-tanggung pernah mensponsori kostum artis Rina Nose.


Nah, kalau di mie klinik asiknya rombongan mendapat sajian makanan lagi euy. Hehe... Mie klinik ini rasanya sama seperti mie ayam pada umumnya, yang membedakan hanya bahan mienya saja yang terbuat dari herbal daun marety. Pemiliknya berdarah cina, tampak sangat ramah menyambut kami.

Untuk suasananya, Karawang terbilang cukup bersih dan penduduknya belum begitu padat. Alur kendaraan pun belum terlalu macet. Menurut info, kabupaten ini memiliki upah minimum yang terbilang lumayanlah sudah di atas 3 juta. Di tempat ini juga berdiri bangunan bersejarah namanya bendungan walahar. Spot buat selfie viewnya asik banget. Arus air yang mengalir, burung-burung yang beterbangan disekitar bendungan semakin mempercantik suasana.



Konon, bangunan ini katanya dibangun pada masa penjajahan Portugis yang kemudian dilanjutkan masa penjajahan Belanda. Pastinya, saat masa pembangunannya banyak melibatkan tenaga pribumi. Berdirinya bendungan ini difungsikan sebagai pembagi air sungai citarum untuk mengatur debit dan sirkulasi air dalam mengaliri areal persawahan. Tak heran jika tempat ini sesungguhnya menjadi saksi dari bergesernya sebuah peradaban sungai khususnya di Karawang.

Singkat cerita, selesai kunjungan kilat ini kami kembali ke wisma tamu untuk istirahat sejenak. Malamnya, kami dijamu lagi makan malam di pinggiran dengan menu seafood. Rasanya sama saja dengan seafood di Bontang. Yang berkesan adalah menu kerang saus padangnya juara. Sekitar pukul setengah 10 malam kembali ke wisma. Sampai disana, ada sedikit rasa takut karena Ibu Ning sudah kembali deluan, terpaksa aku jadi sendiri di tempat ini. Untungnya beberapa jam lagi aku akan cekout karena penerbanganku jam 5 pagi, sehingga jam 1 pagi mesti sudah mulai perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta Jakarta.



Alhamdulilah yah, bisa mengunjungi lagi tempat baru di negeriku Indonesia. Terima kasih Pupuk Kujang Cikampek, terima kasih Karawang.

Salam blogger.

Rabu, 28 September 2016

#Part-8 Keliling Indonesia : Jambi

   26 Juli s.d 01Agustus 2016 lalu alhamdulilah bisa mengunjungi lagi salah satu kota di Indonesia yaitu, Tanah Pilih Pusako Batuah Kota Jambi. Bahagia banget pastinya karena Kota ini baru pertama kali dipijak. Kesini dalam rangka tugas perusahaan mengikuti Pameran Indonesia City Expo.

             Sekilas tentang pameran ini :

Pameran Indonesia City Expo merupakan kegiatan tahunan. Tahun 2016 ini adalah penyelenggaraan ke-14 kalinya yang diperuntukkan bagi instansi pemerintah melalui Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), perusahaan BUMN/BUMD, UMKM, Institusi Pendidikan, serta sektor informal.
Dalam pameran yang berlangsung di Jambi tanggal 26 Juli s.d 01 Agustus 2016 oleh PT. Antheus Indonesia Organizer, dilakukan pula serangkaian kegiatan pendukung meliputi musyawarah nasional APEKSI, pawai budaya, penanaman pohon khas daerah, dan pertunjukan seni budaya nusantara.
Indonesia City Expo 2016 menawarkan kesempatan berpromosi yang sangat baik untuk dapat mengoptimalkan branding dan image dari produk perusahaan dikalangan pejabat dan pengusaha. Oleh karena itu, disinilah salah satu upaya dari PT Pupuk Kaltim (re : nama perusahaan tempat penulis bekerja) untuk dapat selalu melibatkan mitra binaannya dalam ajang pameran dengan didasarkan keyakinan bahwa pameran ini bernilai positif bagi hubungan perusahaan dengan pemerintah dan masyarakat.
  
Tujuan :


1.       Mempublikasikan perkembangan usaha di setiap Kota.
2.     Mendorong mitra binaan untuk melakukan strategis pemasaran dan memperluas promo produk unggulan.
3.       Ajang tukar informasi perkembangan produk kepada pemerintah, pengusaha, dan masyarakat.



e                 Pengunjung Stand
1.       Pejabat pemerintah dan swasta
2.       Investor dan buyer
3.       Pengusaha
4.       Pelajar/Mahasiswa
5.       Masyarakat lokal dan luar daerah

                  Produk yang ditampilkan Mitra Binaan PT Pupuk Kaltim

1.       Kerajinan khas Kaltim : Tas manik-manik, batu permata, kalung, gelang, kain Kaltim, dan lain-lain
2.       Olahan rumput laut Khas Kampung Malahing : Amplang, stick, snack kertas, kembang goyang, ceker rumput laut.
 Bagi saya pameran kali ini cukup berkesan karena dibumbui beberapa kegiatan yang menarik diantaranya :

- Sebelum acara pembukaan, dilakukan terlebih dahulu rangkaian pawai budaya yang pesertanya langsung dari perwakilan Kota-Kota di Indonesia. Untuk wilayah Provinsi Kalimantan Timur cukup banyak Kota yang terlibat. Ada Bontang, Samarinda, Balikpapan, dan Tarakan. Kota lain yang ikut mewarnai pawai budaya ini ada Bandung, Aceh, Banten, Banjarmasin, Palembang, Medan, tentunya ada tuan rumah (Jambi), dan masih banyak lagi yang lainnya. 

- Selain itu, di panggung utama setiap harinya selama pameran berlangsung ditampilkan pentas seni khas daerah masing-masing.

- Uniknya kegiatan ini sampe dihadiri masing-masing Kepala Daerah. Termasuk Walikota Bontang Ibu Neny juga turut hadir, tapi sayangnya malah nggak ketemu beliau. Justru saya ketemu dan sempat foto bareng dengan Walikota Bandung Kang Emil (Bpk. Ridwan Kamil), Ibu Airin (Walikota Tangerang Selatan), dan Gubernur Jambi yang kece Bapak Zumi Zola. Sebagai rakyat biasa, sekilas saya menilai para pemimpin yang sempat bertemu dengan saya ini adalah sosok yang ramah dan mengayomi. Nggak salah, kalau beberapa media memberikan pemberitaan yang positif tentang para pemimpin ini. Semoga saja, bukan pencitraan semata yah. Hehe... 

- Sepertinya Jambi memang bukan kota yang terkenal untuk berwisata. Bahkan mungkin diantara kita ternyata nggak tahu kalau Jambi itu ada di pulau Sumatra. Pada saat disana, memang untuk tempat wisata Jambi belum memiliki tempat yang fenomenal katakanlah seperti Candi Borobudur, keindahan pantai yang bak surga seperti di Bali. Tapi, setidaknya dalam sajian tempat wisata, Jambi mulai berupaya berbenah diri melalui hal yang simpel seperti penataan taman. 

Disana sekumpulan taman sekecil apapun, pasti diberi identitas. Tapi, sayang sekali saya nggak sempat mendokumentasikannya. Karena itulah, saya dan rombongan hanya bisa menyempatkan waktu ke Candi yang bernama Muaro Jambi. Candinya memang nggak sebesar Prambanan, namun viewnya cukup asik kok buat ajang selfie dan wefie (re : foto-foto). Tempat lain yang berhasil kami singgahi ditengah-tengah kepadatan jadwal pameran adalah Masjid Agung Al-Falah yang terkenal dengan sebutan "Masjid 1000 tiang", nongkrong sambil makan malam di tepian sungai Batanghari, serta rumah adat. Selebihnya kami hanya melewati saja tanpa turun langsung ke lokasi seperti Taman Rimba, Taman Mini, pasar keramik Sitimang, dan Jambi juga punya Monas loh.
Candi Muaro Jambi
Candi Muaro Jambi

Taman Mini Jambi
Taman mini


Monas Jambi
Monas Jambi


- Meskipun tempat wisata disana nggak banyak. Jambi memiliki keseruan dari sisi kulinernya. yang rasanya oke banget. Tentunya cocok banget dengan lidah saya yang sangat mencintai masakan ala-ala Sumatra. Jenis kuliner disana, sebenarnya masakan yang sama pada umumnya sering dijumpai seperti pindang ikan, cumi, udang, racikan daging ayam, sapi, dan lainnya. Hanya saja Jambi punya khas akan santan kental, dan memiliki kekuatan dalam mengolah bumbu rempah-rempah menjadi sajian lezat.







- Selama di Jambi, tanpa sadar saya ikut terbawa juga dalam logat melayu saat berbicara dengan orang disana. Terutama pas lagi belanja, biar dikira orang Jambi gitu jadi nggak dikasih mahal-mahal. Hehe...

Sekian dulu yah catatan perjalanan keliling Indonesia di part 8 ini, karena lagi asik juga ne nonton moto gp di sebuah cafe pinggir pantai bersama suami. Hihiii....

Salam,



   





Sabtu, 06 Agustus 2016

#Part-7 Keliling Indonesia : Kupang, Nusa Tenggara Timur

Sebagaimana posting yang sudah pernah aku sampaikan di blog perihal keinginan untuk bisa mengelilingi Indonesia, maka di part-7 keliling Indonesia ini edisi selanjutnya yang akan menjadi goresan tangan adalah Kota Kupang, NTT. Sebelum sampe ke Kota ini, kalau berangkat dari Balikpapan kita akan transit di Surabaya. Lumayan lama juga nunggu waktu penerbangan. Belum lagi pas delay. Jarak tempuh Surabaya-Kupang hampir 2 jam.
Istirahat, transit Surabaya
Akhirnya tiba di bandara El Tari Kupang

Prinsipnya itu, aku happy banget ke daerah yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi. Tahun lalu Juni 2015 (maaf baru sempat ditulis) hehe... alhamdulilah berkat tugas perusahaan, bisa berkunjung ke Kupang, NTT. Waktu itu dalam rangka mengikuti pameran Hari koperasi nasional. Kupang bisa dibilang kota yang masih berproses untuk berkembang. Fasilitas ketersediaan air bersih masih susah. Terbukti masih ada sebagian warga yang harus menampung air bersih yang diambil dari sumber air ditengah kota.
Dari sisi infranstruktur belum terlalu banyak bangunan tinggi yang menonjol. Mall dan bioskop belum ada. Hanya saja untuk hotel sudah lumayan menjamur. Disisi lain disana banyak menyimpan "surga tersembunyi". Namun karena terbatasnya jarak dan waktu, aku dan rombongan cuma bisa "menyicipi" keindahan di 1 tempat wisata yaitu Lasiana Beach.

Sebenarnya masih banyak keindahan lain disana. Hanya saja mesti ditempuh sekitar 3 jam lebih perjalanan. Seperti Labuan bajo, danau kelimutu, taman nasional komodo, pink beach, dan lain-lain.
Lasiana beach


Hal yang membuatku agak kurang nyaman disana adalah kulinernya. Betapa tidak, banyak banget aku lihat warung makan/restaurant yang bertuliskan menyediakan daging "haram".
Menunggu makan siang disajikan


Padahal kalau ke kota orang yang paling dicari terlebih dahulu adalah kulineran. Masakan disana menurutku enak aja sih, tapi karena maaf disana mayoritas non- muslim jadi agak was-was kalau ada makanan mengandung daging yang diharamkan bagi umat muslim. Kalau pun misal tidak mengandung "itu" bisa saja kurang steril karena pemilik warung/restaurant sebagian ada juga yang sambil memelihara hewan tersebut disekitaran dapur.
Pemandangan di belakang hotel

Tapi, apapun itu aku tetap enjoy banget kok menikmati suasana di Kupang. Orangnya ramah-ramah, pemandangannya asik, dan menghiburlah.
Di panggung ceremony acara Harkopnas Expo 2015