Jumat, 27 Maret 2015

Wacana Pasar Bebas ASEAN 2015


Dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi di negara-negara kawasan ASEAN (termasuk anggota didalamnya Indonesia), telah muncul wacana global untuk mendirikan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau pasar bebas ASEAN pada akhir 2015 mendatang sebagai bentuk integrasi ekonomi.
Melalui penelusuran yang dilakukan, tujuan dari upaya pemberlakuan MEA 2015 adalah meningkatkan daya saing ASEAN sebagai basis produksi dalam pasar dunia melalui penghapusan bea dan halangan non-bea dalam ASEAN dan menarik investasi asing langsung ke ASEAN.
Dengan tujuan MEA tersebut, tentu ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal dimana terjadi arus barang, jasa, investasi, dan tenaga terampil yang bebas, serta arus modal yang lebih bebas diantara sesama negara ASEAN. Dengan terbentuknya pasar tunggal yang bebas, maka akan terbuka peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya di kawasan ASEAN.
Jika kita cermati, wacana global terkait MEA 2015 ini sesungguhnya memang bisa menjadi peluang positif bagi kita jika mampu memiliki daya saing. Dan sebaliknya, justru bisa saja merugikan manakala kita tidak mampu menyikapinya secara bijak mengingat dalam wacana ini segala persaingan menjadi hal dasar, dan bisa saja menjadi boomerang utamanya bagi pasar domestik.
Sebab, sejatinya pasar bebas tentu saja akan lebih menguntungkan bagi para produsen yang target pasarnya internasional. Lalu bagaimana untuk produsen dalam negeri, apakah sudah siap menghadapi persaingan dengan produk yang ditawarkan asing. Sudah siapkah sumber daya manusia (SDM) kita bersaing dengan SDM asing yang bisa jadi mungkin lebih berkompeten? 
Seperti yang dilansir dari sebuah media online (nasional.kontan.co.id) yang ditulis oleh Nur Imam Mohammad, dijelaskan bahwa masyarakat ekonomi ASEAN yang mulai berlaku akhir tahun ini mengharuskan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) bersiap. Kini, Kementerian PU-PR tengah berfokus meningkatkan sertifikasi tenaga ahli yang terampil.
Senada, Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian PU-PR Hediyanto Husaini mengatakan, sebenarnya Indonesia sudah siap menghadapi MEA hanya saja, "masih ada masalah di SDM yang tersertifikasi. Soal kemampuan membangun sudah ada, kualifikasi sudah ada, tapi standar ASEAN belum dimiliki,” ungkapnya. 
Hediyanto menambahkan, ada standar khusus yang harus dimiliki oleh tenaga konstruksi untuk menghadapi MEA. Pasalnya, saat ini Indonesia sudah menandatangani ASEAN Mutual Recognation Arrangement (MRA) yang memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan standar kompetensi serta kualifikasi untuk engineer dan arsitek. Dengan kerjasama ini, semua tenaga ahli akan disertifikasi bersama dengan standar yang sama antara negara-negara ASEAN.
Saat ini, di Indonesia baru ada 290 engineer yang tersertifikasi ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE) dan 53 orang tenaga arsitek bersertifikat ASEAN Architect (AA). “Kita harus mempercepat proses kualifikasi sesuai dengan standar yang diwajibkan dalam persyaratan regional ASEAN," kata Hediyanto, Kamis (22/1). 
Dari uraian di atas, tentu inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi kita dalam menyikapi MEA akhir 2015 nanti. Pada akhirnya adalah tugas besar bagi kita untuk mampu menemukan solusi terbaik untuk mampu menghadapi tantangan global dalam wawasan ASEAN 2015 yang sarat akan pasar bebas, sehingga kita mampu mendapatkan manfaat sebanyak-banyaknya dan mengantisipasi dampak terburuk bagi masyarakat secara umum. (Irma Safni)

Sabtu, 21 Maret 2015

Pengalaman MTQ Dari Masa ke Masa

Sekira tahun 1999, tepatnya sejak masih di bangku SD ternyata aku sudah mulai aktif mengenal dunia Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ). Sebelum masuk ke dalam per-MTQan, terlebih dahulu aku mengenal yang namanya peragaan busana muslimah dan Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI). Waktu itu aku belajar ngaji di Taman Pendidikan Al-Quran Al-Hijrah Kota Bontang. Di tempat mengaji itulah, aku mulai didaulat untuk mewakili lomba. Mulai lomba peragaan busana muslimah (1998) yang saat itu dilaksanakan di Town Centre PT Badak dan di Panggung Lapangan Kampung Baru hingga ajang FASI dalam cabang cerdas cermat al-qur'an (CCA). CCA ini sifatnya tim, jadi waktu itu satu tim berjumlah 3 orang.

Dalam ajang FASI tersebut, kebetulan aku didaulat buat mengikuti 2 cabang lomba. Waktu itu CCA dan tartil qur'an. Saat CCA, alhamdulillah tim kami bisa masuk semi final. Tapi, saat jadwal final terpaksa aku nggak bisa ikutan dikarenakan bertepatan dengan jadwal harus tampil tartil. Jadilah saat itu, aku digantikan oleh temanku untuk mengisi kekosongan di tim CCA. Nama penggantiku waktu itu adalah Maya. Alhamdulilah, tartil aku mendapat juara. Tapi, di cabang CCA belum berhasil masuk ke tahap selanjutnya yaitu, final.

Memasuki tahun 2001, aku mulai lengket dengan dunia tilawah. Setiap ada event berbau MTQ baik itu untuk mewakili tingkat sekolah/kampus, kelurahan, kecamatan, kota, provinsi semua aku cicipi. Semua diawali dari usia sekira 10 tahun. Bak bermetamorfosis, aku memulainya dari golongan anak-anak, remaja, hingga sekarang. Dulu, sepengetahuanku MTQ itu identik hanya tilawah. Ternyata di dalam dunianya banyak cabang nggak hanya tilawah. Ada cabang yang disebut Fahmil Qur'an (sejenis cerdas cermat al-quran), Syarhil Qur'an, Khat Qur'an (Kaligrafi), Makalah Ilmiah Al-quran, dan lain sebagainya. Merasa penasaran dengan cabang lomba yang tersedia, aku mulai mencoba tantangan baru.

Mulailah tahun 2007 aku menjajaki cabang syarhil qur'an yaitu, lomba yang harus dilakukan secara tim (1 tim 3 orang terdiri dari penceramah, pembaca al-quran, dan saritilawah). Demi mewujudkan keinginan tersebut, aku mulai berpikir untuk melibatkan orang yang akan menjadi timku. Singkatnya, aku lalu memilih teman sebangkuku waktu SMA Afwina Luthfanny Fathnin (Anin) untuk sebagai saritilawah, dan adek kelasku di Vidatra Ainun Asqolany untuk menjadi pembaca al-quran. Alhamdulilah waktu itu kami juara 1 di tingkat kota dan provinsi. Namun, saat bertanding di tingkat provinsi (Bulungan) aku mempunyai tim baru lagi bersama Nuning dan Nurjannah karena sebelum berangkat ke Bulungan kami semua masih harus melewati tahap seleksi lagi dan yang lolos adalah aku, Nuning, dan Nurjannah. Tim kami dilatih oleh Bapak Badar dan tempat latihan difokuskan di Masjid Al-Falah Hop 1 PT. Badak LNG. 

Bagiku tempat ini sangat berkesan, karena sejak kelas 6 SD aku juga sering banget latihan tilawah di Masjid ini dilatih oleh Ust. Ali Hamdi imam masjid Al-Falah saat itu. Yang nggak habis pikir, dulu saat SD latihan tilawah untuk menuju ke Al-Falah aku melaluinya dengan berjalan kaki dari Tanjung Laut. Sebabnya adalah ketika itu bahkan sampai detik ini angkutan umum belum dijadikan akses jalan untuk umum. Kalau mengingat kenangan berjalan kaki itu, rasanya sesuatu sekali perjuangannya. Hehe... Walaupun dulunya sulit buat menempuh tempat latihan, alhamdulilah berkahnya dapat dirasakan sampai sekarang. Aku jadi bisa menyicipi pelajaran dalam berbagai cabang lomba bernuansa qur'ani. Mulai dari tartil, tilawah, debat ilmiah al-qur'an tingkat kampus di UGM Jogja, makalah ilmiah al-quran, syarhil qur'an, hingga sekarang konsennya di qiro'ah sab'ah mujawwat imam ibnu kasir riwayat qunbul dan al-bazzi.

Pada akhirnya, alhamdulilah...alhamdulilah berkat MTQ selalu bersyukur jadi bisa belajar mengenal ilmu akhirat, merasakan jalan-jalan di Kota orang (hehe...), nambah teman-teman baru, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Wassalam...











Senin, 26 Januari 2015

Berburu Kepiting

Suami sudah sering banget merencanakan pengen berburu kepiting di Selambai Kel. Loktuan, Bontang. Karenanya beberapa hari sebelumnya sudah ngelobi juga ke aku;

q : "sayang, aku boleh gak nangkep kepiting?"
i : "boleh dong sayang, tapi aku pengen ikut e"
q : "serius pengen ikut?"
i : "iya...tapi pas besoknya libur yah biar besok masuk kerja nggak ngantuk di Kantor, hehe..."
q : oke deh sayang.."

Jadilah, kala itu mulai mendekati Minggu dini hari 25/1, kami berdua menuju Selambai dengan cuaca yang cukup dingin karena sebelumnya sempat gerimis. Sampai sana, ternyata air belum terlalu surut euy. Sembari menunggu, aku, Qado, dan 3 oranglaki-laki saudaranya Qado jadinya asik ngobrol sambil nonton TV. Waktu itu, si tuan rumah lagi nyalain kaset filmnya Rhoma Irama yang jaduuuul banget. Mau nggak mau, aku ikut nonton apa yang ditonton sama saudara-saudaranya Qado itu. Wkwkwkwk....

Nggak tahan kantuk, aku jadinya tertidur lelap. Bangun-bangun Qado ternyata sudah hunting. Lalu, aku melihat di balik jendela Qado dan saudaranya asik banget nangkepin kepiting. Sementara lihatin mereka nangkep kepiting, aku juga sambil nonton tayangan TV "Masih di dunia lain". 

Beberapa menit telah berlalu, selesai jualah perburuan kepiting. Pulang-pulang lumayan dapat sekitar 8 kepiting yang besar. Waw.... Paginya, aku coba searching google buat masak kepiting kare. Alhasil, ujicobaku alhamdulilah bisa pecaah juga yah rasanya. Haha.... Buktinya, suamiku, dan semua saudara-saudaranya Qado yang ikut menikmati, serta sahabatku yang aku panggil juga datang buat makan merasa sangat menikmati hingga habis bersama kami santap. Yihayy....

Alhamdulilah semingguan ini lancar jaya dah uji praktik masak memasaknya. Mulai dari kare kepiting, tumis-tumisan, bebakaran, gorengan, dan lain sebagainya telah dicoba. Next step, aku akan terus mempraktikkan resep demi resep. Hihi....



Senin, 19 Januari 2015

Dimana Letak Ikhlas Itu?

Mungkin kita pernah berkata dalam beberapa kalimat "saya sudah mengikhlaskan semuanya", "saya ikhlas atas apa yang terjadi", dan kalimat ikhlas sejenis lainnya. Sejujurnya, jika kita merenungkan kembali makna ikhlas, sepertinya bukan hal yang mudah guys. 

Misal, seandainya kita memberi sesuatu kepada orang lain terus bilang "saya ikhlas memberikannya kepadamu". Tapi, suatu ketika bila mengungkit pemberian yang pernah diberikan apakah kita bisa dikategorikan dalam golongan orang-orang ikhlas?" Hmmm....

Saya pikir, ikhlas nggaknya kita mungkin hanya Tuhan yang paling mengetahui dan berhak menilai. Itulah mengapa, ilmu ikhlas sepertinya menyimpan misteri tersendiri. Hehe... Seringkali orang banyak menyerukan, tapi tidak semua mampu menguasai secara penuh.

Kata orang bijak, yang bisa mengukur ilmu ikhlas adalah hati masing-masing individu yang memiliki dan menggunakan ilmu ini, itupun belum tentu 100%. Hanya Tuhan yang paling benar mengukur keikhlasan seseorang.

Dewasa ini, tentu telah banyak kasus yang terjadi saat tidak melekatnya keikhlasan. Misal, alkisah antara Iblis dan Nabi Adam As, Iblis melakukan dosa pertama di alam semesta karena ketidakikhlasannya yang merasa memiliki saingan yaitu, Adam yang diciptakan Tuhan dari tanah, namun menurut Iblis yang diciptakan dari api, ia (re: Adam) lebih tidak berharga tapi harus dihormati. Dari ketidakikhlasannya inilah, maka tampaklah sifat sombong dari seorang Iblis. 

Bagi saya, ilmu ikhlas adalah suatu hal yang penting. Dimana ia diyakini mampu membuat hidup ini sangat mudah, tentram, indah, dan jauh lebih bermakna. Mengapa bisa terjadi demikian? dari penelusuran info yang didapat, karena seseorang yang ikhlas segala konsentrasinya hanya selalu pada Allah ta'ala. Seseorang yang ikhlas pun juga tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan.  

Bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Sebaliknya, jika kita tidak menanamkan ikhlas dalam diri, tentu akan banyak pula kekecewaan dalam hidup. 

Karenanya, semoga kita semua bisa sama-sama menjadi hamba yang selalu bersyukur yah guys. Sering "melihat kebawah", insya allah akan membuka hati kita untuk selalu bersyukur. Dan, mari kita biasakan pula agar kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, sehingga tidak mengurangi pahala kita.

Minggu, 18 Januari 2015

Hobi Baru : #Part1

Minggu, 18 Januari 2015 adalah titik awal dimana aku merasa insya allah telah akan menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT) sesungguhnya. Sebelumnya itu, masih merasa setengah IRT. Hehe...

Maklum aja sebelumnya, aku belum terlalu bisa optimal memikirkan hari ini menu apa yang harus kita makan karena masih berada dalam satu atap bersama orang tua. Ini semua terjadi, karena mamaku itu juga rajin banget masak. Pulang kerja tau-tau sudah ada makanan disajikan di Meja makan.

Dan, hari ini insya allah aku sudah akan bisa mulai optimal. Dimana, aku pun mulai rajin searching di mbah google tentang menu masakan yang oke dimasak dengan bahan simpel. Doakan yah guyss semoga lancar jaya segala-galanya dengan hobi baruku ini. Amin :)

Selasa, 06 Januari 2015

#Part-3 Keliling Indonesia : Desa Sirindu-Bonde, Sulawesi Barat

Assalamualaikum guyss...

Nggak kerasa yah, alhamdulilah kita sudah memasuki awal tahun yang baru 2015. Besok adalah hari pertama aku masuk kantor setelah menghabiskan cuti selama 5 hari plus 2 hari perjalanan. Cuti mulai tanggal 26 Desember 2014, lalu besok tanggal 7 Januari 2015 mulai masuk kerja lagi.

Benar-benar dah waktu nggak kerasa perputarannya, cepat banget euy. Btw, selama cuti aku menghabiskan waktu di tempat kelahiran suamiku (Bonde) dan juga di tempat tinggal keluarga dari mama dan abaku. Nama daerahnya ada di Desa Sirindu Kec. Pamboang, Desa Bonde Kec. Campalagian, Desa Parabaya, Desa Pillattoang, Desa Lampa, Desa Lapeo, Mamuju, dan beberapa desa lainnya. Semuanya masih berada dalam satu provinsi yang sama yaitu, Sulawesi Barat. Cuti kedua kali ini, perjalanan kami lakukan pula dengan motor tapi plus kapal.
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t34.0-12/10893569_10204841937921502_1036493132_n.jpg?oh=073c7eb420b247058239e83102c87fe8&oe=54C8E99D&__gda__=1422469744_c1fb6b436ff5496dc0048cd334d50af4
Naik motor dari Mamuju ke Desa Sirindu-Bonde

Di sepanjang jalan yang kami lalui dari Mamuju ke Desa Sirindu-Bonde dilengkapi dengan pemandangan pegunungan dan eloknya lautan dengan pasir putihnya, plus banyaknya pohon kelapa di pinggiran pantai. Di sisi pantai semakin oke karena dilengkapi pula dengan wisata kuliner, dimana terdapat beberapa pedagang yang menjajakan es kelapa muda, ikan terbang, buras, dan lain sebagainya.
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t34.0-12/10928155_10204866073724882_747113999_n.jpg?oh=adb87bd62ce089d40c1778e433d792b1&oe=54C94287&__gda__=1422479638_ca1eff0c9443c6d71c341993020e8b41
Kamar di kapal yang kami sewa seharga Rp. 250.000,-
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t34.0-12/10917626_10204841937401489_74613198_n.jpg?oh=f73b9a841e1c8debc6ca6514db71a4a1&oe=54C9562E&__gda__=1422457422_6f026d4dc6968facdc0ad5b04208c8b0
wisata kuliner makan ikan terbang, buras, dll

Sekitar 3 jam telah berlalu, nggak kerasa aku dan suami pun sampe di Sirindu (rumah kakek dan nenek). Sebelum sampe, aku berasa deg-degkan aja gitu. Wajar aja kali yah karena sudah 6 tahun lebih aku nggak nginjaki kaki disini. 

Baru beberapa menit istirahat, sangking nggak sabarnya aku dan suami langsung menuju pantai yang nggak jauh dari rumah. Pemandangan pantai nan eloklah yang membuatku sangat merindukan tempat tersebut.
Finally melihat ombak, tebing, air laut, dll

Hal lain yang bisa kita temui di Desa Sirindu ini adalah tentang pasarnya yang terjadwal. Adanya cuma hari Selasa dan Jumat. Btw, sangking jarangnya ada pasar, jadi aku suka banget menantikan jadwalnya.
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/v/t34.0-12/10893750_10204841936881476_20237128_n.jpg?oh=a876cb536ee6ec5aeb19c84258d8ec81&oe=54CA204D&__gda__=1422480264_223128e99c2c57a3dea2f42dd2ad7472
Beginilah suasana pasar di depan rumah kakek aku. Gambar diambil sekitar pkl. 05.30 am.

Pemandangan di belakang rumah Kakek

Berbicara tentang kakek dan nenek aku, alhamdulilah mereka sekarang masih hidup. Kakek aku adalah seorang pensiunan polisi yang dulu juga memiliki andil dalam perjuangan merebut kemerdekan RI. Sedangkan nenek aku selalu setia menjadi ibu rumah tangga yang baik. Saat jadwal pasar, nenek aku masih suka berjualan kue di depan rumah yang dibantu sama anak-anaknya.
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t34.0-12/10917556_10204841937241485_1515514586_n.jpg?oh=2eb36739e10dc064208983a4c9e97f82&oe=54C90E4F&__gda__=1422456162_882e635c17ce6a4371c2b822c265d92a
With my grandfather umur 107 tahun.
Selain di Sirindu aku juga nginap 4 hari di tempat kelahiran suamiku yaitu, Desa Bonde Kec. Campalagian. Aktivitas aku disana kebanyakan makan, main sama keponakan Qado yang lumayan banyak, dan nyempatin jalan bareng mereka naik angkot ke daerah Polewali Mandar buat jengukin keponakan Qado yang lagi kemah. Hihi...
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t34.0-12/10904169_10204841937281486_767051775_n.jpg?oh=e242c348444901d2b391dae2f372e422&oe=54C95215&__gda__=1422446788_b889aac417f10780865f893e7700ef3f
Makan Binte (mie rebus dicampur jagung)...



Jengukin dek vina yang lagi kemah di Polewali Mandar with Kak Mada,Mammi, Arya

Selanjutnya, aku juga singgah ke Desa Lapeo yang terkenal dengan wisata religinya. Di daerah ini dikenal karena pernah ada seorang ulama besar bernama Muhammad Tahir yang akrab disapa Imam Lapeo dulunya aktif menyebarkan agama islam.


Tanggal 4 Januari 2015, akhirnya dengan rasa sedih aku, suami, mama, dan aba pun harus meninggalkan desa ini untuk kembali beraktivitas di Bontang. Insya allah, saat ada rejeki dan waktu kami pasti akan kembali berkunjung lagi di Desa Sirindu, Bonde, dan desa-desa lain di Provinsi Sulawesi Barat. Amin YRA.....
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t34.0-12/10913098_10204837455609447_159301737_n.jpg?oh=09020b0157ff6b4a0f9471ffa4630583&oe=54C91679&__gda__=1422465064_2299e1bc7cc7df7babf038e425ffc10b
Perjalanan pulang mampir di Jembatan Bolong daerah tappalang (masih di Sulbar) menikmati durian. Lezato....
Ini yang namanya Jembatan Bolong. Konon katanya daerah ini terkenal karena cerita horor yang kuat melekat dengan banyaknya korban jiwa akibat kecelakaan yang sering terjadi di jembatan ini.

Selasa, 23 Desember 2014

Hadiah yang Tertunda

Kala itu, Minggu malam 21 Desember 2014 aku bersama suami keluar rumah karena hendak ada urusan. Sesampai di suatu rumah Jl. Veteran Berbas Tengah aku mengobrol dengan seorang Ibu. Lagi asik ngobrol gitu, tetiba ada inbox di Hp BlackBerryku. Tapi, yang langsung buka itu suamiku. Aku lihat mukanya, langsung senyum-senyum nggak jelas gitu. Sontak aja aku berpikir ada gerangan apa? dan langsung saja aku putuskan pamitan dengan ibu yang aku ajak ngobrol.

Hmmm...keluar dari pintu rumah ibu tadi, Qado langsung liatin hp aku isinya gini :
 https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t34.0-12/10841531_10204688681170179_1173621555_n.jpg?oh=7da11fd6ab1be1c012e9bc21aa2b59c6&oe=54C9D4A3&__gda__=1422528014_7496042c05f412e9cbc76ba3cd838c36

Baca original message dari BB itu, aku dan suami sempat langsung berbunga-bunga gimana gitu. Kapan lagi coba dapat hadiah mobil gratis. Haha.... Antara agak senang, kaget, dan nggak percaya rasanya nyatu. Karena aku dan suami pada dasarnya berjiwa nggak cepat percayaan gitu, jadi kami mencoba menelusuri kebenaran message tersebut.
        
Jadilah di sepanjang jalan itu, kami berdua asik ngebahas message original BB yang misterius itu karena pesannya yang didesign sebegitu "niatnya". Sampai-sampai pengumuman undian dibuat juga di web www.hadiah-tam.com.

Sampai di rumah kita masih menelusuri kebenarannya. Aku coba nelfon ke no kantor yang tercantum tapi nggak ada yang angkat. Dan, aku lacak juga di webnya. Hmmm...sebenarnya di satu sisi, kita ngarep banget itu benar nggak ada modus penipuan. Haha....Tapi, di satu sisi lain aku merasa kok rasanya nggak mungkin dapat undian yang cukup spektakuler. Jadi, kita sepakat buat siapin mental kalau ternyata memang benar hanya modus belaka. Hihi... 

Cara selanjutnya, kita coba buka mbah google dengan keyword pemenang undian TAM Blackberry. Kita buka linknya, taraaa....eh ternyata para "calon pemenang" sudah pada ramai ngebahas hampir kena modus penipuan. Haha....Alhasil terjawab sudahlah rasa penasaranku bersama suami bahwa ini ternyata adalah hanya hadiah yang tertunda (again). Cikikikiii...Dari tulisan ini, kami berpesan kalau ada sesuatu hal mari kita telusuri dulu kebenarannya. Jangan mau langsung bertindak yang bisa merugikan kita. Kalau kata Bang Napi "Waspadalah, waspadalah....!!!!"

Wassalam...