Minggu, 13 April 2014

Kegalauan Mencari Kebenaran Ilmiah

Sempat dibuat galau tentang pencarian jati diri dari sebuah "kebenaran ilmiah", karena itu keluarlah catatan saya ini.   

~ Selamat membaca dan mencerna filsafat pemikiran di bawah ini.

 
Manusia sejak dilahirkan di dunia, tentunya akan selalu memiliki rasa ingin tahu walaupun dalam bentuk terkecil sekalipun. Dari rasa ingin tahu itulah, kemudian manusia dalam perkembangannya akan mendapatkan apa yang dinamakan dengan pengetahuan. Hal ini pula yang mungkin hendak diungkapkan oleh Aristoteles dalam mengawali metafisikanya dengan pernyataaannya bahwa“setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”. Kalau anak jaman sekarang, mengistilahkan "keingintahuan" itu katanya bahasa kerennya disebut "kepo". Hehe... (Yuks...lanjut serius lagi)

Satu hal yang perlu kita pahami bahwa sebelum memahami suatu pengetahuan, secara lebih mendalam tentunya kita akan membutuhkan suatu kerangka berpikir yang sangat sistematis dalam mencapai apa yang disebut sebagai kebenaran ilmiah. Kemudian yang menjadi pertanyaan dalam rahim pemikiran saya adalah apakah pengetahuan manusia untuk memperoleh kebenaran berasal dari akal budi ataukah sesuatu yang berasal dari pengalaman akan realitas objektif ?.

Pemahaman dasar yang perlu kita ketahui bahwasanya cukup menarik, ketika saya pernah mendengar bahwa sesungguhnya pengetahuan itu merupakan peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Dimana objek pengetahuan dan manusia yang posisinya sebagai subjek pengetahuan memegang peranan penting. Ketika manusia memfokuskan diri atau dengan kata lain terarah terhadap objek, hal inilah yang kemudian merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan munculnya pengetahuan dalam diri setiap manusia. 

Hal yang perlu dicatat disini bahwasanya terarahnya manusia terhadap objek tersebut hanya mungkin menimbulkan pengetahuan jika dalam diri manusia sebagai subjek sudah terdapat kesamaan-kesamaan prinsip atau kategori tertentu yang memungkinkan manusia dapat mengenal dan menangkap objek yang diamatinya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, pengetahuan itu hanya akan mungkin terwujud jika manusia sendiri adalah bagian dari objek, dari realitas di alam semesta ini. Di poin inilah kemudian proses pengetahuan mengalami penegasan dalam pemahaman umum bahwa pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dengan segala isinya termasuk manusia dan kehidupannya, serta melewati proses kerja adanya hipotesis, verifikasi, sampai pada akhir penyusunan proposisi.

Di poin ini juga sesungguhnya dapat kita pahami bahwa pengetahuan kemudian terakumulasi menjadi suatu ilmu. Pada dasarnya, konsep ilmu sebagai ilmu pengetahuan akan terkait bagaimana upaya dalam menjelaskan hubungan antara berbagai hal dan peristiwa dalam alam semesta ini dengan sistematis dan masuk akal. Sehingga hal-hal yang kemudian akan dipersoalkan meliputi beberapa macam pertanyaan diantaranya apa itu kebenaran? Apa metode ilmu pengetahuan? Mana sebenarnya metode yang dapat diandalkan dan apa kelemahannya yang dimiliki metode tersebut? Apa itu teori, hipotesis, dan apa itu hukum ilmiah.

Dalam pengetahuan filsafat adanya suatu landasan epistemologi telah dijadikan sebagai titik temu untuk mencari suatu kebenaran melalui paradigma-paradigma keilmuan yang ada seperti halnya positivisme sebagaimana yang banyak dijelaskan dalam beberapa kajian literatur. Dalam sejarah filsafat sebelumnya skeptisisme sebagai suatu sikap dari kaum skeptis yang memandang bahwa pengetahuan mustahil untuk dicapai kemudian dalam perkembangannya persoalan ini kemudian berhasil dipatahkan oleh dua aliran pemikiran yaitu rasionalisme dan empirisme.

Seperti yang telah kita ketahui bahwasanya pengaruh filsafat positivisme adalah apa yang kita kenal sebagai empirisisme. Perlu dipahami empirisisme disini merupakan paham filosofis yang menjelaskan bahwa pengalaman merupakan sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia. Menurut kebanyakan kaum empiris hal yang paling pokok untuk dapat sampai pada puncak pengetahuan yang benar kata kunci yang dapat kita ketahui bahwasanya adalah data dan fakta yang dalam hal ini dapat ditangkap oleh pancaindra manusia. Dengan perkataan lain yang lebih sederhana, satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan pancaindra. Pengalaman yang dimaksud disini adalah pengalaman yang terjadi melalui dan berkat bantuan dari pancaindra secara spontan dan langsung. Dengan kata lain pula suatu pengalaman ataupun pengamatan dan percobaan, penelitian langsung di lapangan untuk mengumpulkan fakta dan data.

Inilah kemudian yang menjadi titik tolak dari pengetahuan manusia karena pada dasarnya kita mengetahui tentang sesuatu hanya berdasarkan dan hanya dengan titik tolak pengalaman indrawi kita sebagai manusia. Logikanya kemudian berujung pada hakekat sumber pengetahuan yang merupakan pengalaman dan pengamatan pancaindra tersebut yang memberi data dan fakta bagi pengetahuan setiap manusia. Sesungguhnya semua konsep dan ide yang kita anggap benar semuanya bersumber dari pengalaman kita dengan objek yang kita tangkap melalui pancaindra. 

Berangkat dari persoalan tersebut, atas dasar inilah persepsi kebanyakan dari kaum empiris lalu menjustifikasi bahwa semua pengetahuan manusia bersifat empiris yang artinya pengetahuan yang benar dan sejati adalah pengetahuan indrawi. Saya kira sebagai kaum yang juga meletakkan pada dasar pemikiran empirisisme, ilmu pengetahuan tidak akan bisa dikembangkan dalam kerangka pemikiran praduga, oleh karena itu fokus kajiannya akan selalu berbasis pada fakta yang ada melalui pancaindra.

 
Ada beberapa poin pemahaman yang sekiranya dapat kitar enungkan bahwasanya pancaindra  memiliki peranan yang sangat penting jika dibandingkan dengan akal budi. Pertama, semua proposisi yang kita ucapkan merupakan hasil laporan dari pengalaman atau yang disimpulkan dari suatu pengalaman. Kedua, kita tidak akan dapat mempunyai konsep maupun ide apa pun tentang sesuatu kecuali yang didasarkan pada apa yang kita peroleh dari pengalaman. Ketiga, yang namanya akal budi hanya akan bisa berfungsi kalau punya acuan ke realitas atau pengalaman. Dari ketiga poin pemahaman tersebut, secara garis besar bagi kaum empiris akal budi hanya mengkombinasikan pengalaman indrawi untuk sampai pada pengetahuan, maka penegasan yang lebih tepat dinyatakan bahwa tanpa pengalaman indrawi tidak akan ada diperoleh pengetahuan apa-apa.

Untuk melihat beberapa pokok penting pemikiran kaum empirisisme, dalam hal ini akan diperkuat pula dari gagasan John Locke dan David Hume. Ada dua pertanyaan mendasar yang dibayangkan dalam pemikiran Locke. Pertama, sebenarnya dari mana kita memperoleh ide-ide tentang sesuatu dan Kedua apakah kita sebagai manusia dapat mengandalkan apa yang ditangkap oleh pancaindra kita untuk bisa sampai pada pengetahuan. Argumen yang kemudian dikembangkan Locke menyatakan bahwa semua konsep, pemikiran, dan ide yang ada pada manusia bersumber dari apa yang ditangkap melalui dan dengan pancaindra. 

Logika sederhananya sebelum manusia menangkap sesuatu dengan pancaindranya akal budi manusia dinyatakan dalam keadaan yang kosong tanpa terisi sesuatu apa pun. Akal budi yang dimiliki pada diri kita hanya bisa mengetahui sesuatu karena mendapat informasi yang diperoleh melalui pancaindra tadi. Ibaratnya sebelum ada informasi dari pancaindra, akal budi ketika itu diibaratkan seperti kerta sputih yang belum ditulisi apa-apa. Mungkin dapat diibaratkan pula seperti bayi yang baru terlahir di dunia ini yang masih suci dari dosa dan belum ada ide atau konsep apa pun yang melekat.

 
Setelah memahami gagasan pemikiran Locke sebagai pemikir aliran empirisisme, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep pemikiran yang ditegaskan pula oleh David Hume sebagai kaum empirisisme yang menolak paham rasionalisme bahwa hakekat pengetahuan manusia yang bersumber dari akal budi manusia. Ada satu hal persoalan yang ditemukan Hume di mana munculnya kembali persoalan klasik sejak dulu yakni bagaimana kita merasa yakin tentang fakta atau keadaan nyata tertentu? Bagaimana kita mengetahui bahwa hal tersebut bukanlah tipuan? Dalam pandangannya Hume menegaskan bahwa kita yakin akan adanya fakta tertentu berdasarkan kesaksian indra kita. Tetapi kemudian bagaimana kita bisa tahu lebih dari fakta yang ada bahwa ada hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Lebih lanjut Hume mengungkapkan kita tahu lebih dari sekedar fakta yang ada berdasarkan prinsip sebab dan akibat. Berdasarkan prinsip lah kemudian kita mampu membuat ramalan atau dugaan tertentu yang melampaui fakta yang ada.

Yang menjadi perenungan dalam rahim pemikiran saya bagaimana manusia dapat sampai pada pengetahuan sebab dan akibat. Menurut kaum rasionalis dalam penjelasannya konsep pengetahuan mengenai sebab dan akibat merupakan pengetahuan bawaan sejak lahir atau apa yang dikenal dengan istilah pengetahuan apriori, sedangkan menurut Hume yang berpikiran empiris, pengetahuan disini sebab dan akibat tersebut bukan melalui penalaran apriori, melainkan berdasarkan pengalaman ketika kita menemukan bahwa objek khusus tertentu selalu berkaitan dengan objek lainnya. 

Satu hal yang perlu dijadikan penekanan disini bahwasanya pengalamanlah yang mengajarkan kita bagaimana satu peristiwa selalu diikuti oleh peristiwa lainnya. Kesimpulan yang dibangun Hume berorientasikan bahwa hukum sebab akibat, dimana hukum yang menyangkut operasi segala peristiwadi alam semesta ini hanya bisa diketahui berdasarkan pengalaman sebab satu peristiwa menyusul peristiwa yang lain belum dengan sendirinya berarti yang satu disebabkan oleh yang lainnya. Hume mengibaratkannya seperti angsa yang berwarna putih, tidak begitu saja langsung dapat dinilai dengan sendirinya yang berarti bahwa semua angsa akan berwarna putih.

Untuk mengakhiri tulisan ini setidaknya beberapa poin penting kesimpulan yang dikembangkan dari kaum empirisisme yang dapat kita pahami kembali yakni, Pertama, kaum empiris mengakui bahwa persepsi atau proses pengindraan sampai tingkat tertentu tidak dapat diragukan. Sampai tingkat tertentu persepsi bebas dari kemungkinan salah atau keliru karena kekeliruan tidak punya tempat pada apa yang “terberikan” (given). 


Sesuatu yang given sampai tingkat tertentu harus diterima sebagainyata, tidak keliru, tak teragukan. Oleh karena itu Hume dan kaum empirisis lainnya kemudian menyatakan suatu persepsi tidak bisa diragukan. Yang keliru adalah daya nalar manusia dalam menangkap dan memutuskan apa yang ditangkap oleh pancaindra itu. Lalu kaum empirisis kembali menyatakan bahwa tidak bisa diragukan ada kebenaran tertentu yang diberikan oleh pengalaman indrawi kitabahkan menurutnya satu-satunya pengetahuan sejati adalah pengetahuan lewat pengalaman. Kedua, empirisisme hanyalah sebuah tesis tentang pengetahuan empiris, yaitu pengetahuan tentang dunia yang berkaitan dengan pengalaman manusia. 

Ketiga, karena lebih menekankan pada pengalaman sebagai sumber pengetahuan manusia, kaum empiris kemudian lebih menekankan pada pengetahuan induktif dimana cara kerja ilmu-ilmu empiris yang mendasarkan diri pada pengamatan, eksperimen untuk bisa sampai pada pengetahuan umum yang tidak dapat terbantahkan oleh karena itu pengetahuan kaum empiris penekanannya adalah apa yang disebut sebagai pengetahuan aposteriori. Dengan pemaknaan lain kaum empiris akan cenderung lebih giat dalam melakukan penilaian lapangan untuk membuktikan kebenaran berbagai proposisi dan akhirnya sampai pada pengetahuan yang sifatnya lebih universal. 

Keempat, kepastian mengenai pengetahuan empiris harus dicek berdasarkan pengamatan, data, pengalaman, dan bukan berdasarkan akal budi. Bagi kaum empiris selanjutnya muncul kembali persepsi bahwa pengalaman dapat memberikan pembuktian tertentu secara langsung dan pasti tentang proposisi tertentu, dan bahwasanya dari proposisi ini kemudian akan dapat ditarik proposisi lainnya.


~ SEKIAN

Sabtu, 12 April 2014

Malam Minggu Kelabu

 
 
Malam minggu kali ini (Sabtu, 12 April 2014), tak seperti biasanya saya bisa tersenyum dan bercanda riang bersama orang yang sangat saya cintai Ahmad Al-Qadri. Malam ini, saya sedang berada di sudut kamar saya “bermesra sendu” bersama laptop diiringi lagu-lagu dari Bruno Mars, Celine Dion, dan Melly Goeslaw. Kalau Qado (re: panggilan buat Kak Qadri), sekarang masih melakukan perjalanan yang sangat melelahkan. Mulai perjalanan darat dari Bontang menuju Balikpapan, terus lanjut terbang ke Makassar, kemudian perjalanan darat lagi sekitar 7 jam-an dari Makassar menuju tujuan utama ke Campalagian.

Perjalanan yang cukup panjang dilalui tersebut, dikarenakan Abanya telah dipanggil oleh-Nya. Padahal 26 April 2014 mendatang, Qado sudah membookingkan tiket pesawat kepada almarhum dan mamanya untuk jalan-jalan melihat kembali Kota Taman (Bontang). Rencana kedatangan beliau itu, hentak saja membuat saya senang. Betapa tidak, saya sudah membayangkan akan bertemu dengan calon aba kedua saya dan mengecup tangannya. Tetapi, nyatanya Tuhan berkehendak lain. Dan, yang paling menyedihkan adalah Qado nggak sempat melihat Abanya untuk yang terakhir kalinya. Sebab, dalam syariat islam katanya mayat harus segera dimakamkan.  


Dari pagi tadi hingga malam minggu kelabu ini, sungguh saya sangat dapat merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan oleh kekasih hati saya itu. Sebab, kehilangan salah satu sosok orang tua yang begitu berarti dalam sepanjang sejarah hidup, tentu bukanlah hal yang mudah. Terlalu banyak kenangan indah yang telah dilewati bersama almarhum hingga Qado beranjak dewasa. Qado sangat sayang dan bangga memiliki orang tua seperti almarhum. Hal ini terlihat jelas, saat ia selalu menguraikan kisah tentang Abanya kepada saya. 


Itulah mengapa Qado benar-benar terpukul atas kepergian Abanya. Saya pun tak kuasa untuk tidak mengeluarkan air mata. Walaupun sekarang ini saya tidak dapat menemani Qado secara langsung disana, tapi saya disini terus mendampinginya dari kejauhan. Sampai detik ini, saya terus meracuni hati dan pikirannya agar ia tidak terus bersedih. Qado pasti kuat, Qado pasti tegar, dan Qado pasti bisa mengikhlaskan kepergian Abanya. Amin YRA.


~ I LOVE U, LaTahzan Innallahama'ana


*Disudut kamarku, 12 April 2014, Pukul 21.42 WITA.

Selasa, 08 April 2014

Sebuah Puisi : Tenangan Tiada



Setiap kali aku terbujuk gemerlap restu
Sekejap lagi aku tersuram gelap derita

Aku tiada jera-jera mencari keliling cahaya
Entah apa mendesak aku menghimbau harapan

Setiap kali aku lupa cahaya bulan hanya sementara
Gelap gulita yang akan kudapat ditinggalkan

Bukankah begitu bangsa semua-muanya
Harapan bersinar menarik kehidupan baru

Bukankah masyarakat diubah-ubah dicoba
Sekejap saja, rupanya derita yang ditunggu

Tiadakah hidup dalam hati pikiran nyata
Adakah gunanya berjuang merubah yang ada

Tiadakah baik berdiamkan tangan
Menutupkan pikiran, arahkan tiada

Tiadakah baik meniadakan angan
Meniadakan diri dalam tenangan tiada

Senin, 07 April 2014

Pentas “Drama Politik”



 
Rabu, 9 April 2014 rakyat Indonesia akan kembali dihadapkan pentas “drama politik” dalam bingkai Pemilihan Umum (Pemilu). Saya meyakini pada hari tersebut, pasti akan ada sekelompok orang yang saling menertawakan, ataupun masa bodoh. Seorang blogger, saya melihat pentas akbar 5 tahunan ini cenderung skeptis (ragu). Ada kekaburan yang saya rasakan. Mulai dari ideologi partai yang semakin kabur, yang sekuler makin Islami, yang Islami makin sekuler. Beberapa calon legislatif yang maju pun masih kabur. Apa benar-benar karena ingin memperjuangkan aspirasi rakyat ke arah yang lebih baik? atau semata hanya ingin menjadikan “kursi empuk kekuasaan” sebagai mata pencaharian? atau hanya untuk memenuhi kuota?. 

Berkaca pada 5 tahun silam, saya jadi bertanya sebenarnya apa saja yah produk dari “drama politik” yang telah dihasilkan dalam rahim Pemilu? Adakah perubahan penting yang telah dapat dirasakan manfaatnya oleh “penonton”, atau jangan-jangan tahun ini tidak akan jauh berbeda dari sebelumnya. Jika demikian, itu artinya lagi-lagi “penonton” hanya akan disuguhi tanda tanya besar dibalik semua drama tersebut.   
 

Meskipun diantara milyaran manusia saya adalah salah satu orang yang masih skeptis terhadap produk Pemilu. Namun, saya tetap bersikap untuk berusaha tidak golput. Sebab, saya pikir para kandidat calon wakil rakyat inilah yang akan menentukan bagaimana power (kekuasaaan) yang dimilikinya akan dikelola. Kita semua tentu berharap, semoga para kandidat dapat mengelola pemerintahan yang baik (good governance) sehingga tidak melahirkan krisis multidimensi. 

 
Saya jadi teringat perkataan salah satu tokoh nasional yang tanggal kelahirannya sama dengan saya (15 Mei). Adalah JK (Jusuf Kalla) mengatakan, bahwa tahun ini tantangan Indonesia dalam menghadapi krisis ada dua yaitu, eksternal dan internal. “Yang eksternal yaitu krisis global Eropa dan USA yang berimbas ke China, lalu menular ke Indonesia. Tapi, krisis Amerika lebih berdampak dari krisis Eropa karena kita lebih banyak berinteraksi, terutama di sektor keuangan. Sementara sebab internalnya adalah karena kebijakan publik yang tidak ideal. Kebijakan terkait BBM, infrastruktur yang parah, biaya rutin negara yang lebih tinggi,” kata JK.

Nah, melalui catatan ini saya berharap semoga besok 9 April 2014 produk “drama politik” yang lahir dari “rahim” bernama pemilu, tidak akan mengecewakan penduduk negeri ini. Oleh karena itu, saya menghimbau agar dalam pelaksanaannya, pemilu harus dipatuhi oleh seluruh warga negara Indonesia dengan berlandaskan asas langsung, umum, bebas, rahasia (Luber) dan ditambah lagi asas jujur dan adil (Jurdil). Untuk dapat mencapai itu semua, maka lembaga penyelenggara Pemilu diharapkan dapat bekerja secara baik dan profesional, yakni mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan partai politik tertentu. Bahkan kepentingan pribadi maupun golongannya sendiri. 

Kata dosen saya dulu Sigit Pamungkas, yang juga merupakan salah satu pejabat penting di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat, dan kebetulan tadi malam (7/4) nongol lagi dalam Debat TV One, pernah menjelaskan bahwa sebagai suatu mekanisme yang demokratis, keberadaan lembaga penyelenggara pemilu menjadi sangat penting ketika ia harus membangun kepercayaan dihadapan publik. Lanjutnya, mengapa kemudian lembaga penyelenggara pemilu yang terpercaya sangat penting? dijelaskan bahwa rusaknya legitimasi pemilu dapat diakibatkan karena adanya keberpihakan pada salah satu atau beberapa kontestan, perencanaan yang tidak matang, pelaksanaan pentahapan pemilu yang tidak rapi, pendaftaran pemilih yang diskriminatif, serta penghitungan suara yang tidak transparan. Karenanya dalam menjamin kredibilitas lembaga penyelenggara pemilu akan dapat dijaga apabila memperhatikan sejumlah hal dalam desain dan cara bertindak. Untuk penjelasannya dapat dilihat sebagai berikut (Pamungkas, 2009 : 47-48).

1.       Independen dan ketidakberpihakan
Lembaga pelaksanaan pemilu tidak boleh tunduk pada arahan dari pihak lain manapun, pihak berwenang, atau partai politik. Lembaga pemilu harus mampu menjalankan kegiatan yang bebas dari campur tangan, karena setiap dugaan manipulasi, persepsi bias, atau dugaan mengenai campur tangan akan memiliki dampak langsung tidak hanya pada kredibilitas dari badan yang bertanggung jawab tetapi juga keseluruhan proses pemilu.
2.       Efisiensi dan keefektifan
Efisiensi dan keefektifan merupakan komponen terpadu dari keseluruhan kredibilitas pemilu. Efisiensi penting untuk proses pemilu sepanjang kegagalan dan masalah teknis dapat dan benar-benar menimbulkan kekacauan dan kegagalan Undang-Undang dan ketertiban. Efesiensi dan keefektifan tergantung beberapa faktor, termasuk profesionalisme para staf, sumber daya, dan yang paling penting adalah waktu yang memadai untuk menyelenggarakan pemilu dan melatih orang-orang yang bertanggung jawab untuk pelaksanaannya.
3.       Profesionalisme
Pemilu harus dikelola kelompok khusus para ahli yang telah sangat terlatih dan memiliki komitmen tinggi yang mengelola dan mempermudah proses pemilu dan yang merupakan karyawan tetap badan pelaksana pemilu.
4.       Keputusan yang tidak berpihak dan cepat
Kerangka hukum harus membuat ketentuan tentang mekanisme untuk memproses, memutuskan dan menangani keluhan dalam pemilu secara tepat waktu.

Baiklah, mari sahabat besok semoga kita bisa menjadi “penonton” cerdas, yang mampu mengenali sifat, karakter dan latar belakang calon yang akan kita pilih dalam pemilu. Dan, memastikan siapa saja sosok yang sungguh pantas untuk dipilih dapat menjaga amanah rakyat, dan mampu memperjuangkan kepentingan saudara-saudari sekalian selaku rakyat biasa. Amin YRA.

~ Selamat memilih yah guys ^_^



Minggu, 06 April 2014

Sebuah Puisi : Hidup

Ketika lahir disambut ebang
Ketika mati dilepas shalat
Antara azan dengan sembahyang
Wahai hidup, alangkah singkat!

Datang kedunia telanjang bulat
Pulang hanya berkain kafan
Jangan ke alam hati tertambat
Alam tak dapat menolong badan


Sabtu, 05 April 2014

Senandung untuk Bintang




Hai Bintang... lama tak menyapamu
Hai Bintang... Apa kabarmu?
Kepakan teras waktu yang berdentang
Apakah terasa cepat bagimu Bintang?
Entah mengapa semua terasa sangat lambat
Semua terasa harus ku hitung setiap detiknya
Kadang membiarkan adalah hal yang tak kusuka
Kadang membiarkan adalah hal yang berat
Membiarkan waktu berputar sewajarnya
Seperti deretan tetes hujan yang ingin ku hitung
Namun memang tak bisa ku hitung
Tapi aku yakin hanya perlu membiarkan
Yah dengan membiarkan semua tersedimen dengan alami
Yah dengan membiarkan aku menghargai proses
Yah dengan membiarkan aku membentuk diriku
Cenderawasih senja akan menghiburku
Sangkakala harapan adalah temanku
Goresan bantah akan menjadi geloraku
Seperti itulah wajah terlupakan
Wajah yang akan menjadi abu-abu sesaat
Dengan harapan akan menjadi emas suatu saat
Dan kau harus percaya itu,Bintang

Hai Bintang... Kau suka senandung Pachelbel Canon
Hai Bintang... tahu kah lagu klasik romantis itu
Tahukah aku sangat menyukainya
Dengan kunci dasar D yang biasa ku dengar
Lewat instrumen kotak senar bertuts hitam putih
Senandung yang membuat imajinasiku berlari dan meloncat
Seperti loncatan ritme ungkapan lagu ini
Ingin sekali bermain dengannya di atas tuts piano
Adalah mimpi karena memang ku tak bisa memainkan piano
Lembut terhenyak dalam sentuhan lembutnya
Terhentak belaian saat tertekan emosional
Bunga yang hitam menjadi kuning
Dan menari bersamaku dan membirukan dinding hatiku
Ventriloquist menghasikan kata yang semerbak
Manis termadu dalam kotak yang penuh gula
Bertiup bagai simponi dentuman rekat hujan
Seperti backsound film Romantis
Dengan seorang lelaki membawa sepetik mawar
Dan sang gadis bermain piano dalam mini konsernya
Dengan langkah mantap dan perlahan
Pria mendobrak arena dan berdiri dihadapnya
Memberikan mawar itu dengan takzimnya
Walaupun dentum melodis piano terputus
Hati mereka bermelodi Canon in D
Saling bersahutan dan bertautan
Senggamakan alunan hati mereka
Melankolisnya diriku

Hai bintang... Maafkan aku mataku terlalu berat
Hai bintang... aku kini mulai terlelah
Sebuah cahaya yang sama dengannya adalah dirimu
Yah dirimu saja Bintang
Menarilah dalam peraduannya untukku
Menarilah dengan irama Canon in D
Selamat malam Bintang

*
Hai Bintang... lama tak menyapamu
Hai Bintang... Apa kabarmu?
Kepakan teras waktu yang berdentang
Apakah terasa cepat bagimu Bintang?
Entah mengapa semua terasa sangat lambat
Semua terasa harus ku hitung setiap detiknya
Kadang membiarkan adalah hal yang tak kusuka
Kadang membiarkan adalah hal yang berat
Membiarkan waktu berputar sewajarnya
Seperti deretan tetes hujan yang ingin ku hitung
Namun memang tak bisa ku hitung
Tapi aku yakin hanya perlu membiarkan
Yah dengan membiarkan semua tersedimen dengan alami
Yah dengan membiarkan aku menghargai proses
Yah dengan membiarkan aku membentuk diriku
Cenderawasih senja akan menghiburku
Sangkakala harapan adalah temanku
Goresan bantah akan menjadi geloraku
Seperti itulah wajah terlupakan
Wajah yang akan menjadi abu-abu sesaat
Dengan harapan akan menjadi emas suatu saat
Dan kau harus percaya itu,Bintang


Hai Bintang... Kau suka senandung Pachelbel Canon
Hai Bintang... tahu kah lagu klasik romantis itu
Tahukah aku sangat menyukainya
Dengan kunci dasar D yang biasa ku dengar
Lewat instrumen kotak senar bertuts hitam putih
Senandung yang membuat imajinasiku berlari dan meloncat
Seperti loncatan ritme ungkapan lagu ini
Ingin sekali bermain dengannya di atas tuts piano
Adalah mimpi karena memang ku tak bisa memainkan piano
Lembut terhenyak dalam sentuhan lembutnya
Terhentak belaian saat tertekan emosional
Bunga yang hitam menjadi kuning
Dan menari bersamaku dan membirukan dinding hatiku
Ventriloquist menghasikan kata yang semerbak
Manis termadu dalam kotak yang penuh gula
Bertiup bagai simponi dentuman rekat hujan
Seperti backsound film Romantis
Dengan seorang lelaki membawa sepetik mawar
Dan sang gadis bermain piano dalam mini konsernya
Dengan langkah mantap dan perlahan
Pria mendobrak arena dan berdiri dihadapnya
Memberikan mawar itu dengan takzimnya
Walaupun dentum melodis piano terputus
Hati mereka bermelodi Canon in D
Saling bersahutan dan bertautan
Senggamakan alunan hati mereka
Melankolisnya diriku

Hai bintang... Maafkan aku mataku terlalu berat
Hai bintang... aku kini mulai terlelah
Sebuah cahaya yang sama dengannya adalah dirimu
Yah dirimu saja Bintang
Menarilah dalam peraduannya untukku
Menarilah dengan irama Canon in D
Selamat malam Bintang


*sumber : http://oky-patria.blogspot.com/2012/09/senandung-untuk-bintang-4.html

Senin, 31 Maret 2014

Behind of me



Irma Safni, sebuah nama yang kata orang tuaku sih, ini sudah harga mati untuk dilekatkan padaku. Nama ini tidak akan pernah diganti. Insya allah akan selalu melekat hingga akhir hayat. Arti khususnya sebenarnya nggak ada. Tapi, satu yang pasti ortuku ingin anaknya mencintai masjid, makanya diberi nama IRMA (Ikatan Remaja Masjid) haha…


Semasa kecil dan telah bisa membaca, aku bahagia karena nama IRMA itu ternyata banyak dipajang di masjid-masjid. Setelah sekarang ini tumbuh menjadi gadis berumur 23 tahun, rasa itu sudah nggak ada lagi. Jadi, yaah biasa aja gitu hehe... Aku anak kedua dari empat bersaudara (Sherly Safni, Irma Safni, Wisnu Perdana, Rio Kurniawan). Aku dilahirkan di rumah, bukan di rumah sakit yang pada umumnya dilakukan orang tua zaman sekarang. Kota kelahiran Bontang, Kalimantan Timur, 15 Mei 1990, tepatnya hari Jumat siang ketika orang-orang sedang sibuk mau berangkat jumatan dan azan berkumandang (*itu kata mamaku). Itulah mengapa aku sangat suka Jumat, dan kata kebanyakan orang Jumat itu juga hari yang bagus penuh berkah meeeen Amiiiin... :)


Sebagai anak kedua dari empat bersaudara tadi, aku bersyukur dapat hidup dalam keluarga yang demokratis, tidak ada paksaan ataupun tekanan dalam memilih atau menjalani kehidupan. Orang tuaku (Abdul Salam dan Husni) selalu memberi kebebasan kepadaku untuk memilih pilihan hidup yang akan kujalani. Selama itu menyenangkan bagiku dan berada di jalan yang positif, ortuku pasti selalu “mengiyakan”. Misal, aku dibebaskan untuk memilih jurusan ketika SMA dan memasuki dunia perkuliahan. SMA jurusan IPA di Vidatra, dan kuliah jurusan politik dan pemerintahan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Begitu juga masalah urusan hati dalam memilih calon pasangan hidup, ortu juga membebaskanku untuk memilih yang sesuai pilihan terbaikku. Jadi, gak ada tuh ceritanya ortuku berusaha untuk memaksa aku harus berjodoh dengan ini atau itu Eeeaaaa…


Aku juga bersyukur karena ijin dan motivasi dari ortuku lah, aku bisa “menyicipi” semua aktivitas yang kugemari. Sejak SD kelas 3 untuk pertama kalinya aku justru menyukai dunia fashion show. Dulu aku sering banget mengikuti lomba peragaan busana muslim bertempat di Town Centre PT Badak dan panggung lapangan kampung baru. Terus SMA sekitar tahun 2007 pernah mengikuti fashion show dengan menggunakan seragam pramuka dan kebetulan juara 1, terus terakhir ikut fashion show pada Agustus 2012 saat pemilihan duta islam berprestasi dan alhamdulilah juga dapat juara.   

Di lain sisi, kemudian aku pun menyukai seni tari modern. Sejak SD Kelas 4 aku dengan teman-teman suka banget latihan tari dan mengikuti lomba. Ketika itu sempat ikut lomba di lapangan parikesit, tapi tim kami belum beruntung untuk menyabet juara. Hahaa… 
my fashion show


belajar musik


Selanjutnya aku menemukan muara kegemaran baru yaitu, berbicara dengan bernada (re: menyanyi). Aku suka banget lagu-lagu yang beraliran pop, jazz, dan nasyid yaitu, alunan musik beraliran pop bernafaskan islami yang selalu menyejukkan hati bagi siapapun yang menyanyikan ataupun mendengarkan. Setelah itu, aku juga mulai menyukai dunia sepedaan, kemah, teater, musik, travelling, nonton film, diskusi, dan menulis.

Saat ini kegiatan seharianku selain mengabdikan diri di perusahaan Pupuk Kaltim, menyalurkan hobi nyanyi lewat zahra voice, dan hobi-hobi yang lain, aku pun di malam hari tiga kali dalam seminggu sibuk memberikan bimbingan belajar kontekstual (les)  kepada anak-anak SD dan SMP. Tempat lesnya di rumahku dengan jumlah murid sekiranya kurang lebih 20 orang dan aku mengajar sendiri. Jika dibayangkan, mungkin kerasa bakal capek yaah...pulang kerja sore, malam lanjut ngajar belum lagi kalau ada latihan, serta rapat organisasi, dan kegiatan tak terduga lainnya. 
With my students ^_^


Kalau capek sih iya, menurutku itu manusiawi. Meskipun demikian, alhamdulilah aku selalu menjalani semua itu dengan hati bahagia. Jadi, yaah semuanya terasa lebih ringan.  Bersyukurnya pula dibalik kesibukanku ini, aku pun masih bisa membagi waktu buat main bareng sama teman-teman, para sahabat, dan keluarga. Prinsipku selama kita masih diberi kesempatan Tuhan hidup di dunia, kita harus bisa menjadi orang yang dapat memberikan kebermanfaatan positif tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi juga untuk orang-orang di sekitar kita.

 
   
gowes ceria, hati pun ceria
gowes bareng sahabat di Vidatra


Sekian sekilas tentang si Blogger Safni… daaaaah ^_^