Sabtu, 19 April 2014

Social Entrepreneur, Agent of Social Change for Indonesia Melalui Pemberdayaan Desa Produktif



Banyaknya permasalahan yang terjadi di negeri ini, tampaknya telah menjadi “cambukan” tersendiri yang harus menjadi bahan perenungan kita sebagai warga negara yang peduli terhadap bangsanya. Sebut saja salah satunya adalah merebaknya fenomena kemiskinan yang setiap tahun justru semakin mengalami kenaikan kuantitas. Jika kita melihat bagaimana kuantitas kemiskinan yang dialami antara daerah perkotaan dan perdesaan, maka angka kemiskinan yang lebih tinggi biasanya akan dialami di daerah perdesaan. 
Misalnya, sebagaimana data Badan Pusat Statistik (BPS) 2010 menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah dari Maret 2009 ke Maret 2010. Pada Maret 2009, sebagian besar (63,38 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan begitu juga pada Maret 2010, yaitu sebesar 64,23 persen.[1] Akibat dari fenomena ini, tentu saja telah berujung pada dampak negatif yang telah dirasakan oleh penduduk negeri ini. Salah satunya adalah kurangnya akses masyarakat miskin dalam setiap urusan pelayanan publik. Seperti beberapa diantaranya pelayanan pendidikan dengan kualitas rendah, biaya kesehatan yang semakin tinggi, kurangnya kesempatan untuk meningkatkan potensi dan bakat, dan lain sebagainya. 

Dihadapkan dengan situasi dan kondisi seperti ini, penulis mensinyalir bahwa tidak menutup kemungkinan akan hadirnya tingkat migrasi desa-kota yang demikian besar. Sebab, daerah perkotaan memiliki daya tarik sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan dan jasa, sehingga mampu menghipnotis bagi sebagian besar penduduk Indonesia untuk meraih “kue-kue industrialisasi” yang tumbuh di Kota.

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan daerah perdesaan dan perkotaan telah menjadi semakin saling berhubungan melalui suatu gerakan yang konstan. Faktanya adalah bahwa daerah perkotaan dan perdesaan menjadi semakin terintegrasi sebagai akibat dari transportasi dan komunikasi yang lebih baik, migrasi desa-kota, dan penyebaran norma-norma perkotaan dan nilai-nilai di daerah perdesaan.[2] Hal ini tentunya telah mengaburkan perbedaan antara perkotaan dan perdesaan

Dalam iklim ekonomi saat ini, daerah perkotaan umumnya diakui sebagai mesin pertumbuhan ekonomi sehingga mampu meningkatkan arus urbanisasi, dan membawa perhatian terhadap munculnya harapan untuk dapat memenuhi kebutuhan dari pertumbuhan ekonomi dan terjadinya pengurangan kemiskinan yang dirasakan cukup menjanjikan. Kenyataan yang memang terjadi bahwasanya pertumbuhan ekonomi di perkotaan lebih sering menjadi fokus perhatian yang kemudian dianggap dapat mengurangi kemiskinan

Akan tetapi, disini suatu upaya pendekatan dalam penanggulangan kemiskinan pun kemudian dirasakan menjadi penting untuk menjadi bahan pertimbangan daerah perdesaan yang terpencil dan terisolasi, sehingga pengurangan kemiskinan khususnya di daerah perdesaan membutuhkan pendekatan terpadu yang di satu sisi dengan melakukan koneksi ekonomi penduduk perdesaan dengan peluang akses ke perkotaan, seperti pasar perkotaan untuk produk perdesaan, dan kesempatan kerja bagi penduduk perdesaan. 

Di sisi lain, perlu untuk melakukan penyediaan layanan dan pengiriman untuk mengakomodasi kebutuhan spesifik dari penduduk perdesaan. Dengan kata lain, ada kebutuhan untuk memperkuat hubungan desa-kota di sejumlah daerah, khususnya hubungan ekonomi (pasar, kerja) dan hubungan fisik (infrastruktur, transportasi, komunikasi). 

Sebagaimana penjelasan yang telah dipaparkan di atas, maka kemudian menjadi penting untuk dapat menjadi Social Entrepreneur, Agent of Social Change for Indonesia yang mampu berpikir kritis dalam memahami dan mengatasi segala persoalan ketidakberdayaan masyarakat dan kemiskinan khususnya di perdesaan. Secara sederhana perlu dipahami bahwa pengertian social entrepreneur[3] disini adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change). Keberhasilan social entrepreneur dapat dilihat dari manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Misalnya dalam penulisan ini, dengan melalui pemberdayaan desa produktif untuk melakukan pemerataan pembangunan dengan mengkoneksikan pertumbuhan ekonomi perdesaan dengan perkotaan yang dapat dilihat dalam konteks ekonomi lokal di Indonesia.

Dalam suatu istilah yang dikenal dengan sebutan 'Kemitraan bagi Pengembangan Ekonomi Lokal' (KPEL) yang merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat untuk membangun kemandirian dan meningkatkan pembangunan ekonomi lokal. Pada dasarnya pendekatan ini berfokus pada membangun kemitraan yang mempromosikan pembangunan ekonomi lokal melalui identifikasi peluang pasar baru, menambah nilai dan meningkatkan keterkaitan ke belakang dan ke depan untuk komoditas ekspor. KPEL juga merupakan salah satu model yang ditawarkan oleh BAPPENAS untuk membantu pemerintah daerah dalam mengatasi kemiskinan dengan meningkatkan pembangunan ekonomi lokal, serta memperkuat demokrasi dan pemberdayaan masyarakat melalui fasilitas kemitraan publik dan swasta. 


Untuk pemilihan studi kasus, selanjutnya dalam hal ini telah dilakukan dengan penekanan khusus pada dua aspek. Pertama, program Kemitraan Pengembangan Ekonomi Lokal (KPEL) pada intervensi yang dilakukan oleh pemerintah dan anggota masyarakat sipil, seperti studi kasus yang ada di Tanggamus Provinsi Lampung . Kedua,program KPEL yang tanpa intervensi, sebagai contoh studi kasus yang ada di desa Kasongan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terkenal dengan produk gerabah dan telah menjadi tempat wisata.

ü  ~ Kabupaten Tanggamus
KPEL secara resmi diluncurkan di Lampung pada Maret 2001. Program ini difokuskan pada produksi kopi mengikuti rekomendasi laporan penelitian mengenai potensi pasar. Proyek ini mengatur kemitraan di Lampung Barat dan Kabupaten Tanggamus. Misi dari kemitraan ini adalah untuk memperkuat kemampuan produsen kopi dan prosesor untuk bersaing di pasar internasional. Mengingat jatuhnya harga kopi dunia hanya sebelum peluncuran, kemitraan perlu kreatif tentang bagaimana mendukung petani dan untuk memastikan upaya untuk meningkatkan kualitas produk lokal untuk mengambil harga yang lebih baik. Disini KPEL bekerja sama dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan dengan prioritas dukungan untuk petani kopi dengan anggaran dari Pemerintah sebesar Rp. 650 juta untuk peralatan, pemasaran dukungan dan pelatihan.  
 

Dampak program keterlibatan pemerintah daerah memainkan peran penting dalam hal kinerja peningkatan kemitraan dan untuk memotivasi para pemangku kepentingan lainnya untuk berpartisipasi. Kemitraan ini terdiri dari 16 dinas diantaranya, adalah dinas pertanian, dinas kehutanan dan perkebunan, bersama dengan Bappeda. Keberhasilan utama dari pengembangan kemitraan awal dihasilkan dari pemimpin lokal (kepala Bappeda Kabupaten Tanggamus sebagai badan yang bertanggung jawab atas perencanaan fisik dan non-fisik di Kabupaten ini). Wewenang Bappeda sebagai badan pemerintah daerah yang dapat mengkoordinasikan beberapa dinas memungkinkannya untuk memaksa dinas lain untuk secara aktif terlibat dalam KPEL (seperti dinas Pertanian, dinas Kehutanan dan Perkebunan).

ü~ Desa Kasongan, Daerah Istimewa Yogyakarta
Pengembangan Desa Kasongan telah melalui banyak transformasi dan juga telah menjadi tempat pasar untuk permintaan kerajinan yang datang dari luar desa. Sebuah studi (yang dilakukan oleh AKATIGA) disebutkan bahwa selama krisis (1997) permintaan pasar telah meningkat dari permintaan lokal dan internasional. Meskipun harga bahan baku telah meningkat khususnya cat, tetapi tetap saja bisa dikompensasi melalui harga jual yang lebih tinggi. Salah satu bentuk contoh kemitraan di desa kasongan adalah kerjasama koperasi yang disebut Satya KOPINKRA dengan Universitas Seni di Yogyakarta. 
Produksi-produksi yang ada di desa ini adalah buatan tangan dan desain yang disesuaikan dengan baik di pasar domestik dan luar negeri. Koperasi adalah dasar kemitraan. Para produsen menerima pelatihan dan informasi dari koperasi dan Universitas Seni di Yogyakarta yang membantu mereka dengan desain dan produksi terutama melalui saluran individu. Pelajaran yang dipelajari adalah produsen harus menjaga keseimbangan antara persaingan dan komunikasi di antara mereka sendiri sebagai kunci keberhasilan kemitraan. Disini dalam kaitannya dengan intervensi pemerintah menunjukkan bahwa intervensi dari pemerintah lokal saat ini adalah bersifat tidak langsung. Misalnya pemerintah daerah dalam hal ini tidak membebankan atau memasukkan pungutan atau retribusi kepada produsen/perusahaan untuk mengekspor

Selain itu, pemerintah daerah juga menyediakan pelatihan, penyediaan peralatan dan mengatur UPT (Unit Pelayanan Teknis) atau Unit Teknis. UPT berfungsi sebagai pusat pelatihan dan showroom. Dampak dari perkembangan desa Kasongan telah menarik banyak wisatawan yang datang dari dalam negeri dan luar negeri, dan ini telah membuat desa kasongan dikenal pula sebagai desa tujuan wisata. Sehingga dampak dari itu semua telah menciptakan penyebaran kegiatan ekonomi ke daerah tetangga, dan desa Kasongan telah menjadi tempat pasar untuk kerajinan tangan yang dibuat di tempat lain (di luar kabupaten dan provinsi).

Dari penggambaran kasus tadi, apabila dicermati hadirnya peran intervensi pemerintah memiliki dampak penting. Berdasarkan kasus-kasus tersebut, hal itu telah menunjukkan bahwa kunci keberhasilan pembangunan pada dasarnya tidak semata-mata ditentukan dari adanya intervensi pemerintah. Akan tetapi, justru kepemimpinan lokal dengan visi dan komitmen untuk membantu memberikan motivasi dalam setiap kegiatan ekonomi agar dapat memperbaiki kehidupan masyarakat, serta kesediaan dari pihak lokal (pengrajin, petani) untuk memperbaiki diri terus menerus lah, yang kemudian cukup memainkan peran penting dalam melakukan proses pencapaian keberlanjutan dari kegiatan ekonomi.
 
Meskipun demikian, dukungan pemerintah setempat juga memberikan kontribusi pada suatu keberlanjutan kegiatan ekonomi. Tentunya dengan asumsi selama peran kinerja yang dilakukan berada pada posisi yang benar. Di KPEL non-intervensi, peran intervensi pemerintah memang tidak begitu kuat, tetapi peran mereka masih dapat dilakukan secara tidak langsung. Dengan demikian untuk mewujudkan tercapainya itu semua, harus ada keberanian untuk membentuk social entrepreneur, agent of social change for Indonesia, dan berupaya mendapatkan dukungan semua pihak yang mendambakan terwujudnya kesejahteraan rakyat yang merata, dan rencana aksi yang nyata sehingga hasil manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat.





[1] Badan Pusat Statistik, Berita Resmi Statistik No. 45/07/Th. XIII, 1 Juli 2010, hal. 2, Diunduh melalui http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan-01jul10.pdf (online).

[2] Rural-Urban Linkages for poverty reduction: A review of selected approaches from asia and the pacific, United Nations, 2005. 


[3] Lihat Setyanto P. Santosa, Peran Social Entrepreneurship Dalam Pembangunan, hal. 1, Diunduh melalui http://kolom.pacific.net.id/ind/media/PERANSOCIALENTREPRENEURSHIPDALAMPEMBA GUNAN.pdf (online).

Senin, 14 April 2014

Cara Menjadi Seorang Blogger

 
   Sepanjang perjalanan saya sebagai seorang blogger (re: sebutan bagi orang yang menulis di blog), cukup banyak kesan atau pertanyaan yang saya dapatkan dari pembaca. Mulai via lisan, facebook, bbm, ataupun komen secara langsung di kolom komentar. Salah satu pertanyaan yang pembaca sampaikan kepada saya adalah bagaimana cara membuat blog?.

   Secara tidak langsung, melalui pertanyaan itu saya dapat menangkap sinyal bahwa sesungguhnya beberapa pembaca juga berkeinginan menjadi seorang blogger. Alhamdulilah, saya bahagia saat pembaca juga ingin menjadi seorang blogger. Itu artinya, kegiatan iseng atas nama hobbi yang saya lakukan ini, alhamdulilah bisa memberi sedikit inspirasi. Inilah hakikat hidup saling berbagi dalam kebaikan. 

   Yang pasti, menjadi seorang blogger itu menyenangkan. Apa yang kita rasakan, dengar, lihat, dan pikirkan dapat kita tuang dalam tulisan sehingga dapat menjadi sebuah karya kecil. Dan, blog adalah salah satu wadah yang asik untuk kita dapat menyajikan tulisan. Istilahnya, blog adalah dunia e-diary. Selama menjadi seorang blogger ada beberapa manfaat yang bisa saya pelajari :
  • Sarana belajar menulis. Kalau sudah punya blog, otomatis bagaimanapun caranya kita harus menulis. Sebab, blog harus diisi secara berkala bisa berupa artikel, pengalaman hidup, berita, ataupun cerita lainnya. Dalam menulis, berusahalah untuk selalu jujur, sertakan sumber tulisan yang kita jadikan referensi. 
  • Tempat curahan hati. Dulu mungkin kita sering menuliskan dalam buku diari. Namun, dengan blog kita bisa melakukannya secara online sehingga bisa dibaca oleh publik. Tetapi, sebaiknya hal-hal yang menurut kita sifatnya sangat pribadi, saya sarankan ada baiknya tidak perlu dipublikasikan kita dapat cukup menyimpannya saja sebagai draft di dalam menu dasbor. 
  • Sarana promosi produk dan jasa (toko online). Kita bisa memaparkan berbagai informasi produk yang dijual karena dapat menampilkan gambar dan foto produk, menjelaskan prosedur dan tata cara pembelian produk dan jasa. Singkatnya, blog mempermudah promosi online. 
  • Memperluas jaringan sosial dan sarana promosi diri. Dengan menulis di blog, orang lain yang membaca akan lebih mengenal kita, baik secara personal maupun impersonal. Di blog kita bebas mengungkapkan apa yang kita pikirkan. Mulai dari berbagi informasi dan pengetahuan, ideologi, serta menyebarkan pesan-pesan kebaikan.
   Ada banyak penyedia jasa blog yang bisa kita gunakan secara gratis yaitu, blogspot, multiply, wordpress dan penyedia blog lainnya. Semenjak SMA, saya awalnya mengenal blogspot, karena itulah sampai detik ini saya masih bertahan di blogspot. Masing-masing penyedia jasa blog punya keunggulan tersendiri. 

   Jika pembaca bertanya apa keunggulan blogspot? jawabannya adalah di situs tersebut kita tentu dapat membuat blog secara gratis, dan juga telah bekerja sama dengan Google. Jadi blog yang nantinya pembaca buat, bisa tampil di mesin pencari Google. Tampilan di blogger.com juga sangat simpel sehingga akan cepat mudah dipahami oleh pemula, serta mudah untuk di otak - atik seperti mengganti template atau background blog, menambah widget seperti musik, foto, video, kalender, jam dinding, slideshow, dan sebagainya. Berikut di bawah ini, pembaca dapat melihat tata cara membuat blog :
 
1.  Seperti halnya facebook atau twitter, kita pun harus masuk ke www.blogger.com. Di blogger kita  juga harus mempunyai email terlebih dahulu. Untuk mendaftar, silakan isikan nama email yang sudah kita buat beserta passwordnya minimal 8 karakter. Setelah itu klik Sign In.

 

2. Setelah itu, tinggal klik Buat Blog Baru.


3. Selanjutnya, akan ada menu melayang seperti gambar di bawah ini. Isikan Judul dan  Alamat blog dengan nama blog sesuai keinginan. Apabila sudah diisi, maka nanti ada tulisan di bawahnya alamat blog ini tersedia. Kalau tidak, pembaca bisa mengganti nama blog yang lainnya. Nah, jika sudah kini tinggal memilih template atau tampilan blog, kemudian pilihlah sesuai selera. Untuk template bisa dirubah lagi.


4. Setelah selesai, blog kita pun sudah jadi. Selanjutnya tinggal klik mulai mengeksposkan untuk membuat artikel terbaru atau langsung klik saja gambar pensilnya.


 ~ Selamat mencoba menjadi seorang blogger yaah ^_^ ~


Minggu, 13 April 2014

Kegalauan Mencari Kebenaran Ilmiah

Sempat dibuat galau tentang pencarian jati diri dari sebuah "kebenaran ilmiah", karena itu keluarlah catatan saya ini.   

~ Selamat membaca dan mencerna filsafat pemikiran di bawah ini.

 
Manusia sejak dilahirkan di dunia, tentunya akan selalu memiliki rasa ingin tahu walaupun dalam bentuk terkecil sekalipun. Dari rasa ingin tahu itulah, kemudian manusia dalam perkembangannya akan mendapatkan apa yang dinamakan dengan pengetahuan. Hal ini pula yang mungkin hendak diungkapkan oleh Aristoteles dalam mengawali metafisikanya dengan pernyataaannya bahwa“setiap manusia dari kodratnya ingin tahu”. Kalau anak jaman sekarang, mengistilahkan "keingintahuan" itu katanya bahasa kerennya disebut "kepo". Hehe... (Yuks...lanjut serius lagi)

Satu hal yang perlu kita pahami bahwa sebelum memahami suatu pengetahuan, secara lebih mendalam tentunya kita akan membutuhkan suatu kerangka berpikir yang sangat sistematis dalam mencapai apa yang disebut sebagai kebenaran ilmiah. Kemudian yang menjadi pertanyaan dalam rahim pemikiran saya adalah apakah pengetahuan manusia untuk memperoleh kebenaran berasal dari akal budi ataukah sesuatu yang berasal dari pengalaman akan realitas objektif ?.

Pemahaman dasar yang perlu kita ketahui bahwasanya cukup menarik, ketika saya pernah mendengar bahwa sesungguhnya pengetahuan itu merupakan peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Dimana objek pengetahuan dan manusia yang posisinya sebagai subjek pengetahuan memegang peranan penting. Ketika manusia memfokuskan diri atau dengan kata lain terarah terhadap objek, hal inilah yang kemudian merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan munculnya pengetahuan dalam diri setiap manusia. 

Hal yang perlu dicatat disini bahwasanya terarahnya manusia terhadap objek tersebut hanya mungkin menimbulkan pengetahuan jika dalam diri manusia sebagai subjek sudah terdapat kesamaan-kesamaan prinsip atau kategori tertentu yang memungkinkan manusia dapat mengenal dan menangkap objek yang diamatinya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, pengetahuan itu hanya akan mungkin terwujud jika manusia sendiri adalah bagian dari objek, dari realitas di alam semesta ini. Di poin inilah kemudian proses pengetahuan mengalami penegasan dalam pemahaman umum bahwa pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dengan segala isinya termasuk manusia dan kehidupannya, serta melewati proses kerja adanya hipotesis, verifikasi, sampai pada akhir penyusunan proposisi.

Di poin ini juga sesungguhnya dapat kita pahami bahwa pengetahuan kemudian terakumulasi menjadi suatu ilmu. Pada dasarnya, konsep ilmu sebagai ilmu pengetahuan akan terkait bagaimana upaya dalam menjelaskan hubungan antara berbagai hal dan peristiwa dalam alam semesta ini dengan sistematis dan masuk akal. Sehingga hal-hal yang kemudian akan dipersoalkan meliputi beberapa macam pertanyaan diantaranya apa itu kebenaran? Apa metode ilmu pengetahuan? Mana sebenarnya metode yang dapat diandalkan dan apa kelemahannya yang dimiliki metode tersebut? Apa itu teori, hipotesis, dan apa itu hukum ilmiah.

Dalam pengetahuan filsafat adanya suatu landasan epistemologi telah dijadikan sebagai titik temu untuk mencari suatu kebenaran melalui paradigma-paradigma keilmuan yang ada seperti halnya positivisme sebagaimana yang banyak dijelaskan dalam beberapa kajian literatur. Dalam sejarah filsafat sebelumnya skeptisisme sebagai suatu sikap dari kaum skeptis yang memandang bahwa pengetahuan mustahil untuk dicapai kemudian dalam perkembangannya persoalan ini kemudian berhasil dipatahkan oleh dua aliran pemikiran yaitu rasionalisme dan empirisme.

Seperti yang telah kita ketahui bahwasanya pengaruh filsafat positivisme adalah apa yang kita kenal sebagai empirisisme. Perlu dipahami empirisisme disini merupakan paham filosofis yang menjelaskan bahwa pengalaman merupakan sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia. Menurut kebanyakan kaum empiris hal yang paling pokok untuk dapat sampai pada puncak pengetahuan yang benar kata kunci yang dapat kita ketahui bahwasanya adalah data dan fakta yang dalam hal ini dapat ditangkap oleh pancaindra manusia. Dengan perkataan lain yang lebih sederhana, satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan pancaindra. Pengalaman yang dimaksud disini adalah pengalaman yang terjadi melalui dan berkat bantuan dari pancaindra secara spontan dan langsung. Dengan kata lain pula suatu pengalaman ataupun pengamatan dan percobaan, penelitian langsung di lapangan untuk mengumpulkan fakta dan data.

Inilah kemudian yang menjadi titik tolak dari pengetahuan manusia karena pada dasarnya kita mengetahui tentang sesuatu hanya berdasarkan dan hanya dengan titik tolak pengalaman indrawi kita sebagai manusia. Logikanya kemudian berujung pada hakekat sumber pengetahuan yang merupakan pengalaman dan pengamatan pancaindra tersebut yang memberi data dan fakta bagi pengetahuan setiap manusia. Sesungguhnya semua konsep dan ide yang kita anggap benar semuanya bersumber dari pengalaman kita dengan objek yang kita tangkap melalui pancaindra. 

Berangkat dari persoalan tersebut, atas dasar inilah persepsi kebanyakan dari kaum empiris lalu menjustifikasi bahwa semua pengetahuan manusia bersifat empiris yang artinya pengetahuan yang benar dan sejati adalah pengetahuan indrawi. Saya kira sebagai kaum yang juga meletakkan pada dasar pemikiran empirisisme, ilmu pengetahuan tidak akan bisa dikembangkan dalam kerangka pemikiran praduga, oleh karena itu fokus kajiannya akan selalu berbasis pada fakta yang ada melalui pancaindra.

 
Ada beberapa poin pemahaman yang sekiranya dapat kitar enungkan bahwasanya pancaindra  memiliki peranan yang sangat penting jika dibandingkan dengan akal budi. Pertama, semua proposisi yang kita ucapkan merupakan hasil laporan dari pengalaman atau yang disimpulkan dari suatu pengalaman. Kedua, kita tidak akan dapat mempunyai konsep maupun ide apa pun tentang sesuatu kecuali yang didasarkan pada apa yang kita peroleh dari pengalaman. Ketiga, yang namanya akal budi hanya akan bisa berfungsi kalau punya acuan ke realitas atau pengalaman. Dari ketiga poin pemahaman tersebut, secara garis besar bagi kaum empiris akal budi hanya mengkombinasikan pengalaman indrawi untuk sampai pada pengetahuan, maka penegasan yang lebih tepat dinyatakan bahwa tanpa pengalaman indrawi tidak akan ada diperoleh pengetahuan apa-apa.

Untuk melihat beberapa pokok penting pemikiran kaum empirisisme, dalam hal ini akan diperkuat pula dari gagasan John Locke dan David Hume. Ada dua pertanyaan mendasar yang dibayangkan dalam pemikiran Locke. Pertama, sebenarnya dari mana kita memperoleh ide-ide tentang sesuatu dan Kedua apakah kita sebagai manusia dapat mengandalkan apa yang ditangkap oleh pancaindra kita untuk bisa sampai pada pengetahuan. Argumen yang kemudian dikembangkan Locke menyatakan bahwa semua konsep, pemikiran, dan ide yang ada pada manusia bersumber dari apa yang ditangkap melalui dan dengan pancaindra. 

Logika sederhananya sebelum manusia menangkap sesuatu dengan pancaindranya akal budi manusia dinyatakan dalam keadaan yang kosong tanpa terisi sesuatu apa pun. Akal budi yang dimiliki pada diri kita hanya bisa mengetahui sesuatu karena mendapat informasi yang diperoleh melalui pancaindra tadi. Ibaratnya sebelum ada informasi dari pancaindra, akal budi ketika itu diibaratkan seperti kerta sputih yang belum ditulisi apa-apa. Mungkin dapat diibaratkan pula seperti bayi yang baru terlahir di dunia ini yang masih suci dari dosa dan belum ada ide atau konsep apa pun yang melekat.

 
Setelah memahami gagasan pemikiran Locke sebagai pemikir aliran empirisisme, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep pemikiran yang ditegaskan pula oleh David Hume sebagai kaum empirisisme yang menolak paham rasionalisme bahwa hakekat pengetahuan manusia yang bersumber dari akal budi manusia. Ada satu hal persoalan yang ditemukan Hume di mana munculnya kembali persoalan klasik sejak dulu yakni bagaimana kita merasa yakin tentang fakta atau keadaan nyata tertentu? Bagaimana kita mengetahui bahwa hal tersebut bukanlah tipuan? Dalam pandangannya Hume menegaskan bahwa kita yakin akan adanya fakta tertentu berdasarkan kesaksian indra kita. Tetapi kemudian bagaimana kita bisa tahu lebih dari fakta yang ada bahwa ada hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Lebih lanjut Hume mengungkapkan kita tahu lebih dari sekedar fakta yang ada berdasarkan prinsip sebab dan akibat. Berdasarkan prinsip lah kemudian kita mampu membuat ramalan atau dugaan tertentu yang melampaui fakta yang ada.

Yang menjadi perenungan dalam rahim pemikiran saya bagaimana manusia dapat sampai pada pengetahuan sebab dan akibat. Menurut kaum rasionalis dalam penjelasannya konsep pengetahuan mengenai sebab dan akibat merupakan pengetahuan bawaan sejak lahir atau apa yang dikenal dengan istilah pengetahuan apriori, sedangkan menurut Hume yang berpikiran empiris, pengetahuan disini sebab dan akibat tersebut bukan melalui penalaran apriori, melainkan berdasarkan pengalaman ketika kita menemukan bahwa objek khusus tertentu selalu berkaitan dengan objek lainnya. 

Satu hal yang perlu dijadikan penekanan disini bahwasanya pengalamanlah yang mengajarkan kita bagaimana satu peristiwa selalu diikuti oleh peristiwa lainnya. Kesimpulan yang dibangun Hume berorientasikan bahwa hukum sebab akibat, dimana hukum yang menyangkut operasi segala peristiwadi alam semesta ini hanya bisa diketahui berdasarkan pengalaman sebab satu peristiwa menyusul peristiwa yang lain belum dengan sendirinya berarti yang satu disebabkan oleh yang lainnya. Hume mengibaratkannya seperti angsa yang berwarna putih, tidak begitu saja langsung dapat dinilai dengan sendirinya yang berarti bahwa semua angsa akan berwarna putih.

Untuk mengakhiri tulisan ini setidaknya beberapa poin penting kesimpulan yang dikembangkan dari kaum empirisisme yang dapat kita pahami kembali yakni, Pertama, kaum empiris mengakui bahwa persepsi atau proses pengindraan sampai tingkat tertentu tidak dapat diragukan. Sampai tingkat tertentu persepsi bebas dari kemungkinan salah atau keliru karena kekeliruan tidak punya tempat pada apa yang “terberikan” (given). 


Sesuatu yang given sampai tingkat tertentu harus diterima sebagainyata, tidak keliru, tak teragukan. Oleh karena itu Hume dan kaum empirisis lainnya kemudian menyatakan suatu persepsi tidak bisa diragukan. Yang keliru adalah daya nalar manusia dalam menangkap dan memutuskan apa yang ditangkap oleh pancaindra itu. Lalu kaum empirisis kembali menyatakan bahwa tidak bisa diragukan ada kebenaran tertentu yang diberikan oleh pengalaman indrawi kitabahkan menurutnya satu-satunya pengetahuan sejati adalah pengetahuan lewat pengalaman. Kedua, empirisisme hanyalah sebuah tesis tentang pengetahuan empiris, yaitu pengetahuan tentang dunia yang berkaitan dengan pengalaman manusia. 

Ketiga, karena lebih menekankan pada pengalaman sebagai sumber pengetahuan manusia, kaum empiris kemudian lebih menekankan pada pengetahuan induktif dimana cara kerja ilmu-ilmu empiris yang mendasarkan diri pada pengamatan, eksperimen untuk bisa sampai pada pengetahuan umum yang tidak dapat terbantahkan oleh karena itu pengetahuan kaum empiris penekanannya adalah apa yang disebut sebagai pengetahuan aposteriori. Dengan pemaknaan lain kaum empiris akan cenderung lebih giat dalam melakukan penilaian lapangan untuk membuktikan kebenaran berbagai proposisi dan akhirnya sampai pada pengetahuan yang sifatnya lebih universal. 

Keempat, kepastian mengenai pengetahuan empiris harus dicek berdasarkan pengamatan, data, pengalaman, dan bukan berdasarkan akal budi. Bagi kaum empiris selanjutnya muncul kembali persepsi bahwa pengalaman dapat memberikan pembuktian tertentu secara langsung dan pasti tentang proposisi tertentu, dan bahwasanya dari proposisi ini kemudian akan dapat ditarik proposisi lainnya.


~ SEKIAN

Sabtu, 12 April 2014

Malam Minggu Kelabu

 
 
Malam minggu kali ini (Sabtu, 12 April 2014), tak seperti biasanya saya bisa tersenyum dan bercanda riang bersama orang yang sangat saya cintai Ahmad Al-Qadri. Malam ini, saya sedang berada di sudut kamar saya “bermesra sendu” bersama laptop diiringi lagu-lagu dari Bruno Mars, Celine Dion, dan Melly Goeslaw. Kalau Qado (re: panggilan buat Kak Qadri), sekarang masih melakukan perjalanan yang sangat melelahkan. Mulai perjalanan darat dari Bontang menuju Balikpapan, terus lanjut terbang ke Makassar, kemudian perjalanan darat lagi sekitar 7 jam-an dari Makassar menuju tujuan utama ke Campalagian.

Perjalanan yang cukup panjang dilalui tersebut, dikarenakan Abanya telah dipanggil oleh-Nya. Padahal 26 April 2014 mendatang, Qado sudah membookingkan tiket pesawat kepada almarhum dan mamanya untuk jalan-jalan melihat kembali Kota Taman (Bontang). Rencana kedatangan beliau itu, hentak saja membuat saya senang. Betapa tidak, saya sudah membayangkan akan bertemu dengan calon aba kedua saya dan mengecup tangannya. Tetapi, nyatanya Tuhan berkehendak lain. Dan, yang paling menyedihkan adalah Qado nggak sempat melihat Abanya untuk yang terakhir kalinya. Sebab, dalam syariat islam katanya mayat harus segera dimakamkan.  


Dari pagi tadi hingga malam minggu kelabu ini, sungguh saya sangat dapat merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan oleh kekasih hati saya itu. Sebab, kehilangan salah satu sosok orang tua yang begitu berarti dalam sepanjang sejarah hidup, tentu bukanlah hal yang mudah. Terlalu banyak kenangan indah yang telah dilewati bersama almarhum hingga Qado beranjak dewasa. Qado sangat sayang dan bangga memiliki orang tua seperti almarhum. Hal ini terlihat jelas, saat ia selalu menguraikan kisah tentang Abanya kepada saya. 


Itulah mengapa Qado benar-benar terpukul atas kepergian Abanya. Saya pun tak kuasa untuk tidak mengeluarkan air mata. Walaupun sekarang ini saya tidak dapat menemani Qado secara langsung disana, tapi saya disini terus mendampinginya dari kejauhan. Sampai detik ini, saya terus meracuni hati dan pikirannya agar ia tidak terus bersedih. Qado pasti kuat, Qado pasti tegar, dan Qado pasti bisa mengikhlaskan kepergian Abanya. Amin YRA.


~ I LOVE U, LaTahzan Innallahama'ana


*Disudut kamarku, 12 April 2014, Pukul 21.42 WITA.

Selasa, 08 April 2014

Sebuah Puisi : Tenangan Tiada



Setiap kali aku terbujuk gemerlap restu
Sekejap lagi aku tersuram gelap derita

Aku tiada jera-jera mencari keliling cahaya
Entah apa mendesak aku menghimbau harapan

Setiap kali aku lupa cahaya bulan hanya sementara
Gelap gulita yang akan kudapat ditinggalkan

Bukankah begitu bangsa semua-muanya
Harapan bersinar menarik kehidupan baru

Bukankah masyarakat diubah-ubah dicoba
Sekejap saja, rupanya derita yang ditunggu

Tiadakah hidup dalam hati pikiran nyata
Adakah gunanya berjuang merubah yang ada

Tiadakah baik berdiamkan tangan
Menutupkan pikiran, arahkan tiada

Tiadakah baik meniadakan angan
Meniadakan diri dalam tenangan tiada

Senin, 07 April 2014

Pentas “Drama Politik”



 
Rabu, 9 April 2014 rakyat Indonesia akan kembali dihadapkan pentas “drama politik” dalam bingkai Pemilihan Umum (Pemilu). Saya meyakini pada hari tersebut, pasti akan ada sekelompok orang yang saling menertawakan, ataupun masa bodoh. Seorang blogger, saya melihat pentas akbar 5 tahunan ini cenderung skeptis (ragu). Ada kekaburan yang saya rasakan. Mulai dari ideologi partai yang semakin kabur, yang sekuler makin Islami, yang Islami makin sekuler. Beberapa calon legislatif yang maju pun masih kabur. Apa benar-benar karena ingin memperjuangkan aspirasi rakyat ke arah yang lebih baik? atau semata hanya ingin menjadikan “kursi empuk kekuasaan” sebagai mata pencaharian? atau hanya untuk memenuhi kuota?. 

Berkaca pada 5 tahun silam, saya jadi bertanya sebenarnya apa saja yah produk dari “drama politik” yang telah dihasilkan dalam rahim Pemilu? Adakah perubahan penting yang telah dapat dirasakan manfaatnya oleh “penonton”, atau jangan-jangan tahun ini tidak akan jauh berbeda dari sebelumnya. Jika demikian, itu artinya lagi-lagi “penonton” hanya akan disuguhi tanda tanya besar dibalik semua drama tersebut.   
 

Meskipun diantara milyaran manusia saya adalah salah satu orang yang masih skeptis terhadap produk Pemilu. Namun, saya tetap bersikap untuk berusaha tidak golput. Sebab, saya pikir para kandidat calon wakil rakyat inilah yang akan menentukan bagaimana power (kekuasaaan) yang dimilikinya akan dikelola. Kita semua tentu berharap, semoga para kandidat dapat mengelola pemerintahan yang baik (good governance) sehingga tidak melahirkan krisis multidimensi. 

 
Saya jadi teringat perkataan salah satu tokoh nasional yang tanggal kelahirannya sama dengan saya (15 Mei). Adalah JK (Jusuf Kalla) mengatakan, bahwa tahun ini tantangan Indonesia dalam menghadapi krisis ada dua yaitu, eksternal dan internal. “Yang eksternal yaitu krisis global Eropa dan USA yang berimbas ke China, lalu menular ke Indonesia. Tapi, krisis Amerika lebih berdampak dari krisis Eropa karena kita lebih banyak berinteraksi, terutama di sektor keuangan. Sementara sebab internalnya adalah karena kebijakan publik yang tidak ideal. Kebijakan terkait BBM, infrastruktur yang parah, biaya rutin negara yang lebih tinggi,” kata JK.

Nah, melalui catatan ini saya berharap semoga besok 9 April 2014 produk “drama politik” yang lahir dari “rahim” bernama pemilu, tidak akan mengecewakan penduduk negeri ini. Oleh karena itu, saya menghimbau agar dalam pelaksanaannya, pemilu harus dipatuhi oleh seluruh warga negara Indonesia dengan berlandaskan asas langsung, umum, bebas, rahasia (Luber) dan ditambah lagi asas jujur dan adil (Jurdil). Untuk dapat mencapai itu semua, maka lembaga penyelenggara Pemilu diharapkan dapat bekerja secara baik dan profesional, yakni mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan partai politik tertentu. Bahkan kepentingan pribadi maupun golongannya sendiri. 

Kata dosen saya dulu Sigit Pamungkas, yang juga merupakan salah satu pejabat penting di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat, dan kebetulan tadi malam (7/4) nongol lagi dalam Debat TV One, pernah menjelaskan bahwa sebagai suatu mekanisme yang demokratis, keberadaan lembaga penyelenggara pemilu menjadi sangat penting ketika ia harus membangun kepercayaan dihadapan publik. Lanjutnya, mengapa kemudian lembaga penyelenggara pemilu yang terpercaya sangat penting? dijelaskan bahwa rusaknya legitimasi pemilu dapat diakibatkan karena adanya keberpihakan pada salah satu atau beberapa kontestan, perencanaan yang tidak matang, pelaksanaan pentahapan pemilu yang tidak rapi, pendaftaran pemilih yang diskriminatif, serta penghitungan suara yang tidak transparan. Karenanya dalam menjamin kredibilitas lembaga penyelenggara pemilu akan dapat dijaga apabila memperhatikan sejumlah hal dalam desain dan cara bertindak. Untuk penjelasannya dapat dilihat sebagai berikut (Pamungkas, 2009 : 47-48).

1.       Independen dan ketidakberpihakan
Lembaga pelaksanaan pemilu tidak boleh tunduk pada arahan dari pihak lain manapun, pihak berwenang, atau partai politik. Lembaga pemilu harus mampu menjalankan kegiatan yang bebas dari campur tangan, karena setiap dugaan manipulasi, persepsi bias, atau dugaan mengenai campur tangan akan memiliki dampak langsung tidak hanya pada kredibilitas dari badan yang bertanggung jawab tetapi juga keseluruhan proses pemilu.
2.       Efisiensi dan keefektifan
Efisiensi dan keefektifan merupakan komponen terpadu dari keseluruhan kredibilitas pemilu. Efisiensi penting untuk proses pemilu sepanjang kegagalan dan masalah teknis dapat dan benar-benar menimbulkan kekacauan dan kegagalan Undang-Undang dan ketertiban. Efesiensi dan keefektifan tergantung beberapa faktor, termasuk profesionalisme para staf, sumber daya, dan yang paling penting adalah waktu yang memadai untuk menyelenggarakan pemilu dan melatih orang-orang yang bertanggung jawab untuk pelaksanaannya.
3.       Profesionalisme
Pemilu harus dikelola kelompok khusus para ahli yang telah sangat terlatih dan memiliki komitmen tinggi yang mengelola dan mempermudah proses pemilu dan yang merupakan karyawan tetap badan pelaksana pemilu.
4.       Keputusan yang tidak berpihak dan cepat
Kerangka hukum harus membuat ketentuan tentang mekanisme untuk memproses, memutuskan dan menangani keluhan dalam pemilu secara tepat waktu.

Baiklah, mari sahabat besok semoga kita bisa menjadi “penonton” cerdas, yang mampu mengenali sifat, karakter dan latar belakang calon yang akan kita pilih dalam pemilu. Dan, memastikan siapa saja sosok yang sungguh pantas untuk dipilih dapat menjaga amanah rakyat, dan mampu memperjuangkan kepentingan saudara-saudari sekalian selaku rakyat biasa. Amin YRA.

~ Selamat memilih yah guys ^_^



Minggu, 06 April 2014

Sebuah Puisi : Hidup

Ketika lahir disambut ebang
Ketika mati dilepas shalat
Antara azan dengan sembahyang
Wahai hidup, alangkah singkat!

Datang kedunia telanjang bulat
Pulang hanya berkain kafan
Jangan ke alam hati tertambat
Alam tak dapat menolong badan